Presiden Amerika Serikat Donald Trump pernah mencak-mencak terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu hingga menyebutnya "penipu".
Sebuah buku yang cuplikannya dimuat oleh CNN pada 19 Juni lalu menunjukkan bagaimana Trump kesal terhadap Netanyahu hingga mengecapnya dengan "salah satu penghinaan terburuk" dalam kosakata Trump.
Menurut buku "Regime Change" karya wartawan New York Times Maggie Haberman, cap itu dilontarkan Trump di bulan-bulan pertamanya menjabat kembali sebagai presiden. Saat itu, Netanyahu membujuk Trump untuk ikut melancarkan serangan terhadap Iran.
Namun, Trump menolak mentah-mentah. Menurut penulis, Trump mengatakan kepada salah satu penasihatnya bahwa Netanyahu "seorang penipu".
Penolakan Trump untuk berperang dengan Iran ini juga sempat disampaikannya kepada komentator politik Tucker Carlson. Carlson disebut merespons dengan mengatakan perang melawan Iran akan menjadi "satu-satunya hal yang bisa menghancurkan" Trump.
Kendati begitu, pada Februari, Trump menggelar pertemuan di Ruang Situasi Gedung Putih bersama Netanyahu dan sejumlah pejabat tinggi AS dan Israel. Dalam pertemuan tersebut, Netanyahu mempresentasikan alasan Israel ingin berperang melawan Iran.
Mendengar alasan Netanyahu, Trump luluh. Ia akhirnya berubah pikiran dan setuju untuk ikut perang.
Menurut penulis, Trump juga sempat menyatakan kekaguman sekaligus kengeriannya terhadap aksi Israel menyabotase pager Hizbullah di Lebanon.
Peristiwa pada September 2024 tersebut diceritakan Trump kepada Elon Musk dan Carlson di Oval Office.
Trump menjelaskan panjang lebar mengenai luka parah yang meliputi alat kelamin yang terputus hingga tangan yang hilang imbas ledakan pager. Ia juga bercerita bagaimana salah satu korban selamat "tampak seperti digigit hiu putih besar yang mencabik-cabiknya".
Penulis menyebut Trump berulang kali mengatakan "ini mengerikan, ini mengerikan" atas insiden tersebut. Ia juga menyatakan kekaguman atas "sifat tanpa pandang bulu" sekaligus "kecerobohan" serangan di ruang publik itu.