Jakarta, IDN Times - Persepsi negatif masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional mencapai level tertinggi dalam tujuh tahun terakhir. Hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan, 49,4 persen responden menilai kondisi ekonomi nasional berada dalam kondisi buruk atau sangat buruk. Sebaliknya, hanya 15,7 persen yang menilai baik atau sangat baik.
Survei bertajuk 'Kondisi Ekonomi dan Approval Rating Presiden' ini dilakukan pada 5–19 Juli 2026 terhadap 749 responden yang mewakili warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih. Sebanyak 605 responden diwawancarai melalui telepon menggunakan metode double sampling, sedangkan 144 responden diwawancarai secara tatap muka dengan metode stratified multistage sampling. Survei memiliki margin of error sekitar ±3,7 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Table of Content
1. Persepsi negatif terhadap ekonomi mencapai level tertinggi dalam tujuh tahun
SMRC mencatat 49,4 persen responden menilai kondisi ekonomi nasional saat ini berada dalam kategori buruk atau sangat buruk. Sementara itu, 33,9 persen menilai kondisi ekonomi sedang dan hanya 15,7 persen yang menilai kondisi ekonomi baik atau sangat baik. Sisanya 1 persen tidak mengetahui atau tidak menjawab.
Survei itu menyatakan, proporsi responden yang memberikan penilaian negatif tersebut menjadi yang tertinggi sejak lembaga itu melakukan pengukuran dalam tujuh tahun terakhir.
2. Penilaian negatif terhadap ekonomi melonjak sembilan bulan terakhir
Tren persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi menunjukkan perubahan yang konsisten dalam tiga survei terakhir.
Pada November 2025, proporsi responden yang menilai kondisi ekonomi buruk atau sangat buruk masih berada di angka 22,7 persen. Angka tersebut naik menjadi 31,7 persen pada survei Februari–Maret 2026, sebelum kembali melonjak menjadi 49,4 persen pada Juli 2026. Sementara, penilaian positif turun dari 40 persen, menjadi 26,3 persen, lalu merosot ke 15,7 persen pada periode yang sama.
Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, menjelaskan, pola tersebut sejalan dengan penurunan tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto.
“Yang penting adalah polanya. Tadi kita ingat turunnya cukup linier atau sangat linier dari tiga titik itu garisnya sangat rata turunnya (pada penilaian approval rating terhadap kinerja Prabowo). Ini pun demikian juga begitu. Jadi ini bisa menjelaskan kenapa orang tidak puas dengan kinerja Presiden Prabowo tadi itu karena kondisi ekonomi memburuk di mata mereka. Jadi ada konsistensi antar item,” kata Deni dalam kanal YouTube SMRC TV, Minggu (26/7/2026).
3. Persepsi publik dinilai mengkonfirmasi kekhawatiran ekonom
Deni menilai, selisih antara penilaian positif dan negatif terhadap kondisi ekonomi menunjukkan persepsi masyarakat belum sejalan dengan capaian pertumbuhan ekonomi secara makro.
“Tiga kali lipat lebih. Kalau 15 berbanding 49, lebih banyak tiga kali lipat yang merasa buruk. Jadi ini indikasi bahwa memang bisa dikatakan persepsi publik ini mengkonfirmasi perkiraan sejumlah ekonom bahwa pertumbuhan ekonomi bukan angka yang salah, tetapi itu bukan mencerminkan pertumbuhan ekonomi di tingkat individual masyarakat,” kata Deni.
4. Hampir separuh warga merasa ekonomi lebih buruk dibanding tahun lalu
Dalam surveinya, SMRC juga meminta responden membandingkan kondisi ekonomi nasional saat ini dengan satu tahun sebelumnya.
Hasilnya menunjukkan, sebanyak 45,8 responden menilai kondisi ekonomi nasional sekarang lebih buruk atau jauh lebih buruk dibanding tahun lalu. Sementara 19,7 persen menilai kondisinya lebih baik atau jauh lebih baik, sedangkan 32,5 persen menyatakan tidak ada perubahan. Sisanya 2 persen tidak mengetahui atau tidak memberikan jawaban.
Deni mengatakan, temuan tersebut kembali menunjukkan pola yang konsisten dengan penilaian masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini.
“Trennya lagi-lagi kita bisa lihat bahwa penurunannya 25 poin juga. Walaupun kita gunakan pertanyaan dalam survei yang berbeda tentang kondisi ekonomi,” kata Deni.