Rupiah Hari Ini Menguat Tipis tetapi Masih di Rp 18.000 Per Dolar AS

Rupiah Hari Ini Menguat Tipis tetapi Masih di Rp 18.000 Per Dolar AS

Jakarta, Beritasatu.com - Nilai tukar rupiah berhasil mencatatkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu (29/7/2026), di tengah perhatian pelaku pasar terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah serta hasil rapat kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).

Mengacu data Bloomberg pada perdagangan sore, rupiah ditutup menguat 10 poin atau 0,06% ke posisi Rp 18.073 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 18.083 per dolar AS.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengatakan penguatan rupiah terjadi ketika pelaku pasar mencermati meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah Iran meluncurkan sejumlah rudal balistik yang menyasar pasukan Amerika Serikat di kawasan tersebut.

"Ketegangan kembali meningkat setelah pasar sempat semakin optimistis bahwa upaya diplomasi akan menunjukkan kemajuan, menyusul pertemuan antara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump di Washington," ungkap Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (29/7/2026).

Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga menanti arah kebijakan moneter Federal Reserve, termasuk pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh terkait prospek suku bunga acuan Amerika Serikat.

Menurut Ibrahim, investor belum mengambil posisi agresif menjelang pengumuman hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan pada Kamis (30/7/2026) pukul 01.00 WIB. Keputusan tersebut dinilai akan menjadi petunjuk penting bagi arah kebijakan suku bunga AS dalam beberapa waktu ke depan.

Dari dalam negeri, Ibrahim menilai pergerakan rupiah juga dipengaruhi sentimen pasar terhadap penurunan tingkat kepuasan publik atas kinerja Presiden Prabowo Subianto.

Berdasarkan survei Indikator Politik Indonesia yang melibatkan 4.250 responden pada 14-24 Juli 2026, tingkat kepuasan terhadap kinerja Presiden Prabowo tercatat sebesar 49,5%. Angka tersebut turun sekitar 18 poin persentase dibandingkan survei April 2026 yang mencapai 68%, serta lebih rendah dibandingkan tingkat kepuasan pada Desember 2025 yang sebesar 81%.

Di kawasan Asia, mayoritas mata uang juga menguat terhadap dolar AS. Penguatan terjadi pada yen Jepang, dolar Taiwan, won Korea Selatan, peso Filipina, rupiah Indonesia, rupee India, yuan China, ringgit Malaysia, dan baht Thailand.

Sementara itu, dolar Hong Kong menjadi satu-satunya mata uang di kawasan yang melemah terhadap dolar AS, sedangkan dolar Singapura bergerak stagnan hingga penutupan perdagangan.

Dolar AS

Nilai Tukar Rupiah