Relokasi Pabrik Komponen ke Vietnam Jadi Alarm Industri Otomotif

Relokasi Pabrik Komponen ke Vietnam Jadi Alarm Industri Otomotif

JAKARTA, KOMPAS.com – Potensi pemindahan sebagian produksi perusahaan komponen otomotif raksasa dari Indonesia ke Vietnam dinilai tidak bisa dipandang sebagai persoalan dua perusahaan semata.

Di tengah perlambatan industri otomotif dan transisi menuju kendaraan listrik (electric vehicle/EV), fenomena tersebut menjadi pengingat bahwa daya saing industri komponen nasional perlu segera diperkuat agar tidak semakin tertinggal dalam rantai pasok global.

Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam mengatakan, perusahaan yang belakangan menjadi sorotan (PT J dan PT S) sebenarnya merupakan produsen komponen yang berfokus untuk pasar ekspor.

Pabrik mobil PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Karawang, Jawa Barat.
Pabrik mobil PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Karawang, Jawa Barat.

Karena itu, menurut dia, isu tersebut tidak berkaitan langsung dengan melemahnya penjualan kendaraan di pasar domestik, melainkan lebih mencerminkan tantangan yang dihadapi industri komponen dalam persaingan global.

"Sebenarnya perusahaan komponen yang dibicarakan ini murni fokus ke ekspor. Jadi enggak ada hubungan sama domestic market," kata Bob kepada Kompas.com, Minggu (28/6/2026).

75 persen industri otomotif

Bob menjelaskan, industri komponen merupakan tulang punggung industri otomotif karena menyumbang porsi terbesar dalam rantai nilai (value chain).

"Dari value chain, hanya 25 persen yang ada di pabrikan. Sebanyak 75 persen itu ada di pabrik komponen," ujarnya.

Oleh karena itu, setiap perubahan yang terjadi di sektor komponen akan berdampak langsung terhadap keseluruhan ekosistem industri otomotif nasional.

Namun, menurut dia, sebagian besar industri komponen di Indonesia masih memproduksi komponen kendaraan bermesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE), sementara industri otomotif global mulai bergeser ke kendaraan listrik.

"Nah, jadi pabrik komponen kita ini hampir 100 persen adalah komponen ICE. Belum ada komponen mobil listrik," kata Bob.

Akibatnya, pertumbuhan pasar kendaraan listrik belum mampu memberikan manfaat yang signifikan bagi industri komponen nasional.

Ilustrasi booth Toyota di IIMS 2026
Ilustrasi booth Toyota di IIMS 2026

Bob mencontohkan, dari sekitar 800.000 penjualan mobil baru di Indonesia, sekitar 200.000 unit kini merupakan kendaraan listrik. Di sisi lain, industri komponen lokal belum banyak terlibat dalam rantai pasok kendaraan listrik.

"Memang belum banyak industri otomotif yang supply mobil listrik. Kalau kita lihat, penjualan mobil baru kita kan 800.000 dan 200.000-nya dari mobil listrik. Jadi secara ICE-nya sebenarnya turun. Inilah yang disebut pabrik komponen berdarah-darah," ujarnya.

Menurut Bob, kondisi tersebut terjadi karena ekosistem industri kendaraan listrik masih terkonsentrasi di negara lain yang lebih dahulu mengembangkan rantai pasoknya.

"Ya, tapi kan ekosistemnya ada di negara importir kita," kata Bob.

Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat

Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app

Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat

Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app

Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat

Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app

Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal, saat diwawancarai terkait isu 4.000 kaeyawan PT Fengtay di Banjaran, Kabupaten Bandung yang akan di rumahkan, Senin (22/6/2026).
Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal, saat diwawancarai terkait isu 4.000 kaeyawan PT Fengtay di Banjaran, Kabupaten Bandung yang akan di rumahkan, Senin (22/6/2026).(KOMPAS.COM/M. Elgana Mubarokah)