Ringkasan Berita:
- Sebagian orang tua siswa di Ponorogo, Jawa Timur tidak keberatan program MBG dihentikan sementara selama libur sekolah.
- Mereka menilai anggaran MBG lebih bermanfaat jika dialihkan untuk mendukung pendidikan gratis.
- Wali murid juga menyoroti menu MBG yang dinilai kurang sesuai untuk anak usia TK karena sering pedas dan bertekstur keras.
Laporan Wartawan TribunJatim.com, Pramita Kusumaningrum
TRIBUNJATIM.COM, PONOROGO - Masa libur sekolah program program Makan Bergizi Gratis (MBG) dihentikan sementara.
Beragam tanggapan dari orang tua siswa di Ponorogo, Jawa Timur terkait aturan tersebut.
Di Ponorogo, sejumlah orang tua siswa justru menyambut kebijakan tersebut dengan santai karena kebutuhan makan anak dinilai masih dapat dipenuhi oleh keluarga masing-masing.
Bagi sebagian wali murid, persoalan yang lebih mendesak saat ini bukanlah penyediaan makanan di sekolah, melainkan biaya pendidikan yang terus mengalami kenaikan hampir setiap tahun.
Mereka berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih besar terhadap akses pendidikan yang lebih terjangkau.
Pandangan itu muncul seiring meningkatnya pengeluaran keluarga untuk kebutuhan sekolah, mulai dari uang SPP hingga biaya pendukung pendidikan lainnya.
Menurut mereka, bantuan pada sektor pendidikan akan memberikan dampak yang lebih luas dan dirasakan langsung oleh masyarakat.
Selain itu, beberapa orang tua juga menilai pelaksanaan MBG masih memerlukan evaluasi, terutama terkait kesesuaian menu dengan usia peserta didik. Mereka berharap jika program kembali berjalan, penyajian makanan dapat lebih disesuaikan dengan kebutuhan anak-anak pada setiap jenjang pendidikan.
Meski demikian, para wali murid tetap mengapresiasi tujuan pemerintah dalam meningkatkan pemenuhan gizi anak melalui program tersebut.
Hanya saja, mereka menilai prioritas bantuan pendidikan saat ini lebih mendesak dibandingkan penyediaan makanan gratis.
Aturan Baru MBG
Aturan baru Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Badan Gizi Nasional (BGN) tahun 2026 menekankan efisiensi anggaran, ketepatan sasaran penerima, serta pengawasan dapur penyedia makanan yang lebih ketat.
Anggaran MBG dipangkas dari Rp335 triliun menjadi Rp268 triliun, dan anak dari keluarga mampu tidak lagi menjadi penerima manfaat.
Orang Tua Usul Anggaran MBG Dialihkan untuk Pendidikan Gratis
“Tidak apa-apa ndak dapat MBG (Makan Bergizi Gratis), mending pendidikan gratis,” ungkap Pipit Fitria, salah satu orang tua siswa penerima MBG, Senin (22/6/2026).
Pipit menilai kebutuhan makan anak masih dapat dipenuhi oleh keluarga. Menurutnya, bantuan pendidikan akan lebih dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, terutama untuk meringankan biaya SPP yang terus mengalami kenaikan mulai dari jenjang TK hingga SMA.
“Dulu awal-awal MBG, anak saya yang TK maupun SMA sering dapat susu besar, roti, buah-buahan untuk hari Sabtu dan Ahad (Minggu). Sekarang tidak ya ndak masalah,” katanya.
Menu MBG Dinilai Kurang Cocok untuk Anak TK
Selain menyoroti persoalan biaya pendidikan, Pipit juga menilai beberapa menu MBG kurang sesuai untuk anak usia taman kanak-kanak.
Menurutnya, makanan yang disajikan terkadang memiliki rasa pedas dan tekstur yang kurang lembut sehingga banyak anak tidak menghabiskan makanan yang diberikan.
“Padahal tujuannya kan agar anak dapat gizi seimbang. Padahal anak TK belum terbiasa makan pedas. Akibatnya banyak anak termasuk anak saya tidak menghabiskan makanan,” terangnya.
Ia menambahkan, beberapa menu yang diberikan juga terlalu keras untuk dikonsumsi anak-anak TK. Akibatnya, makanan kerap terbuang atau digantikan dengan membeli jajanan lain sehingga tujuan pemenuhan gizi tidak tercapai secara maksimal.
“Kami memahami dapur MBG melayani banyak jenjang. Namun untuk anak TK, kebutuhan gizinya spesifik: non-pedas, tekstur lembut, rasa familiar seperti telur, ayam suwir, ikan, tempe,” urainya.
Pipit mengaku apabila diberikan pilihan, dirinya lebih memilih pendidikan gratis dibandingkan program makan gratis karena kebutuhan makan sehari-hari masih dapat dipenuhi oleh orang tua.
“Biaya sekolah tiap tahun naik mbak, naik kelas SPP juga naik. Untuk TK sampai Rp 60 ribu per bulan, tahun depan sudah Rp 70 ribu per bulan. Belum yang SMA juga begitu,” tegasnya.
Harga Bahan Pangan Turun, Wali Murid Mengaku Lebih Lega
Pendapat serupa disampaikan Wiwin Eka. Orang tua siswa tersebut mengaku setuju dengan penghentian sementara MBG karena kebutuhan makan anak tetap bisa dipenuhi di rumah.
“Malah tidak mubazir kan. Kalau boleh memilih pendidikan gratis saja lah. MBG dihentikan harga-harga juga turun kok,” papar Eka kepada TribunJatim.com.
Ia mencontohkan harga sejumlah bahan pangan saat ini mengalami penurunan dibandingkan ketika program MBG masih aktif berjalan. Harga daging ayam kini berada di kisaran Rp 26 ribu per kilogram, sedangkan telur ayam sekitar Rp 24 ribu per kilogram.
Menurutnya, sebelumnya harga daging ayam sempat mencapai Rp 40 ribu per kilogram dan telur ayam sekitar Rp 29 ribu per kilogram saat MBG masih berjalan.
“Agak lega sih, harganya turun semua. Malah bisa makan bergizi semuanya. Sudah pendidikan gratis saja,” pungkas Eka.