BANDAR LAMPUNG, KOMPAS.com – Suara tawa anak-anak kini menggantikan dentuman alat berat di kawasan Jalan Batin Mangku Negara, Kelurahan Batu Putuk, Kecamatan Teluk Betung Utara, Kota Bandar Lampung.
Namun jika diperhatikan lebih dekat, bebatuan besar yang tersebar di beberapa sudut kawasan masih menjadi penanda masa lalu tempat itu—yang dahulu merupakan area tambang batu.
Dari lokasi yang pernah identik dengan aktivitas pengambilan material alam itu, kini berdiri kawasan hijau bernama Lembah Suhita, ruang konservasi sekaligus wisata edukasi lingkungan.
Dari Tambang Menuju Konservasi
Lembah Suhita mulai dikembangkan sejak 2017 dengan konsep “From Quarry to Sanctuary”, yakni mengubah area bekas tambang menjadi kawasan konservasi.
“Awalnya kawasan ini merupakan tambang batu. Kemudian mulai kami kelola sejak 2017 dengan konsep ‘From Quarry to Sanctuary’, dari area tambang menjadi kawasan konservasi dan edukasi lingkungan,” kata tim marketing Lembah Suhita, Adinda Putri Anastasia, Selasa (23/6/2026).
Menurut Adinda, konsep tersebut tidak hanya menghadirkan wisata alam, tetapi juga ruang belajar bagi pengunjung untuk memahami pentingnya menjaga lingkungan.
“Kami ingin masyarakat lebih aware terhadap konservasi dan perlindungan lingkungan. Jadi ketika datang ke sini, mereka tidak hanya berwisata, tetapi juga mendapatkan edukasi,” ujarnya.
Belajar dari Alam hingga Lebah
Salah satu daya tarik utama kawasan ini adalah bee keeping experience, yaitu pengalaman mengenal budidaya lebah secara langsung.
Pengunjung dapat melihat aktivitas lebah, memahami proses produksi madu, hingga mengetahui peran penting serangga tersebut dalam ekosistem.
“Kami ingin masyarakat memahami bahwa lebah memiliki banyak manfaat bagi kehidupan. Tidak hanya menghasilkan madu, tetapi juga berperan penting dalam menjaga keberlangsungan lingkungan,” kata Adinda.
Di area galeri, pengunjung juga dapat menemukan berbagai jenis madu dengan karakter rasa berbeda, serta produk turunan lebah dan UMKM lokal sebagai oleh-oleh.
Berbeda dari destinasi wisata pada umumnya, Lembah Suhita tidak memungut tiket masuk.
Pengunjung cukup melakukan registrasi dan berbelanja minimal Rp 25.000 di area kafe atau galeri.
“Registrasi masuk di sini gratis. Pengunjung cukup berbelanja minimal Rp 25.000 di galeri atau kafe yang tersedia,” ujar Adinda.
Kawasan ini dibuka setiap hari pukul 08.30–16.00 WIB.
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app