Potensi Kerugian Ekonomi Akibat El Nino Bisa Capai Rp 180.000 Triliun

Potensi Kerugian Ekonomi Akibat El Nino Bisa Capai Rp 180.000 Triliun

Jakarta, Beritasatu.com – Para peneliti menyebut fenomena El Niño yang kini semakin menguat berpeluang menjadi yang terbesar dalam sedikitnya 150 tahun terakhir. Kerugian ekonominya diyakni bahkan bisa capai Rp 180.000 triliun.

Jika proyeksi tersebut terealisasi, panas yang dilepaskan dari lautan, ditambah perubahan iklim akibat aktivitas manusia, dapat memicu cuaca ekstrem di berbagai wilayah dunia.

Model iklim memperkirakan puncak El Niño kali ini akan melampaui rekor sebelumnya dengan selisih yang sangat besar. Ilmuwan iklim Berkeley Earth Zeke Hausfather mengatakan kemungkinan fenomena tersebut, bersama perubahan iklim, mendorong suhu rata-rata global pada 2027 hingga 1,7 derajat celsius di atas tingkat praindustri masih terbuka.

Majalah teknologi Amerika Serikat WIRED melaporkan penelitian ilmuwan iklim Justin Mankin menemukan El Niño 1997–1998 menyebabkan kerugian ekonomi yang mengurangi pertumbuhan global sekitar US$ 5,7 triliun pada tahun-tahun setelahnya.

Jika proyeksi terbaru terwujud, fenomena El Niño yang sedang berlangsung saat ini berpotensi menimbulkan kerugian sekitar US$ 10 triliun hingga 2032, menurut Mankin.

Dengan asumsi kurs Rp 18.000 per US$ 1, nilai kerugian tersebut setara sekitar Rp 180.000 triliun atau Rp 180 kuadriliun. Sementara itu, kerugian akibat El Niño 1997–1998 sebesar US$ 5,7 triliun setara sekitar Rp 102,6 kuadriliun.

World Resources Institute (WRI) menyebut El Niño juga dapat memperkuat gelombang panas laut. Kondisi tersebut sangat berisiko bagi ekosistem laut yang sebelumnya sudah mengalami peningkatan suhu akibat perubahan iklim.

Lonjakan suhu laut dapat merusak padang lamun dan hutan kelp, meningkatkan tekanan serta risiko penyakit pada budi daya perairan, dan mengganggu waktu serta persebaran plankton dan populasi ikan.

Terumbu karang menjadi salah satu ekosistem yang paling rentan. Fenomena El Niño kuat, seperti yang terjadi pada 1997–1998 dan 2015–2016, memicu pemutihan karang secara luas yang melemahkan ekosistem penopang perikanan, pariwisata, dan perlindungan pesisir.

Bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada laut, gangguan ekologi tersebut dapat menekan pendapatan, ketahanan pangan, penerimaan pemerintah, serta ketahanan kawasan pesisir. Dampaknya diperkirakan lebih berat di negara berkembang dan negara kepulauan yang masyarakatnya sangat bergantung pada sumber daya laut.

WRI juga memperingatkan gangguan bahan bakar dan pupuk yang berkaitan dengan konflik Iran-Amerika Serikat. El Niño yang kuat hingga sangat kuat berpotensi meningkatkan risiko kekeringan, gelombang panas, banjir, tekanan terhadap padang penggembalaan, gangguan perikanan, serta penurunan produksi pertanian di sejumlah wilayah.

Menurut Reuters, fenomena tersebut berpotensi memicu kekeringan di sejumlah wilayah Asia dan hujan lebat di sebagian Amerika Selatan. Kondisi ini dapat mengancam produksi pertanian dan pasokan pangan.

Kemarau

Cuaca Ekstrem

Panas Ekstrem

Negara berkembang menjadi pihak yang paling rentan karena rumah tangga di negara tersebut mengalokasikan porsi besar pendapatan untuk kebutuhan pangan. Sementara itu, sektor pertanian memiliki peran penting dalam perekonomian sehingga risiko inflasi dapat meningkat dan mendorong bank sentral mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.

Bank sentral Filipina, Indonesia, Korea Selatan, Pakistan, dan Sri Lanka telah menaikkan suku bunga setidaknya satu kali tahun ini. El Niño yang parah berpotensi mempertahankan biaya pinjaman pada tingkat tinggi di kawasan tersebut hingga awal tahun berikutnya.

"El Niño hanya akan membuat inflasi semakin sulit turun," kata Gary Tan, pengelola portofolio saham Allspring Global Investments, dilansir dari VnExpress.

Menurut dia, pasar memperkirakan kenaikan suku bunga pada paruh kedua tahun ini, terutama di negara-negara Asia Selatan yang paling terdampak El Niño, seperti India, Indonesia, Vietnam, dan Thailand.
 

Kemarau

Cuaca Ekstrem

Panas Ekstrem