Politikus PDIP: Latihan Militer Calon Manajer Koperasi Desa Harus Dievaluasi

Politikus PDIP: Latihan Militer Calon Manajer Koperasi Desa Harus Dievaluasi

1. Latsarmil tak sesuai tugas utama calon manajer calon manajer Koperasi Desa-Kampung Nelayan

2. Kemhan klaim latihan manajer Kopdes-Kampung Nelayan sebatas senam-PBB

DPR Desak Pemerintah Hentikan Latihan Militer Calon Manajemen Kopdes
Pembukaan pendidikan bagi siswa Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Koperasi Desa atau Kelurahan Merah Putih di Pusdikes Puskesad, Kramat Jati. (www.instagram.com/@puskesad)

Sebelumnya, tewasnya lima calon manajer Koperasi Desa/Kampung Nelayan Merah Putih (KDKNMP) saat mengikuti latihan dasar militer menuai sorotan publik mengenai materi pelatihan. Kementerian Pertahanan (Kemhan) mengklaim kegiatan fisik yang diberikan belum masuk kategori latihan berat. Kemhan menyebut mayoritas korban dilaporkan sempat mengeluhkan sesak napas sebelum meninggal dunia.

Kepala BPSDM Kemhan Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia menjelaskan fase awal pendidikan difokuskan pada pembentukan disiplin melalui program bela negara, bukan latihan militer dengan intensitas tinggi.

"Kegiatan-kegiatan fisik sesuai dengan yang sudah dilaksanakan itu adalah senam, kemudian jalan, PBB, dan PPM. Jadi belum ada kegiatan yang memang menentukan kegiatan fisik berat," kata dia dalam konferensi pers di Kementerian Pertahanan, Sabtu (27/6/2026).

Ketut menjelaskan materi tersebut menjadi tahapan awal sebelum peserta menerima pembelajaran manajerial dari Kementerian Koperasi maupun Kementerian Kelautan dan Perikanan.

"Proses ini dijalankan secara bertahap, bertingkat dan berlanjut. Kemudian dihadapkan dengan kegiatan national building ini juga baru berlanjut ke manajerialnya secara pararel yaitu materi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang diampu oleh Kementerian Koperasi. Kemudian manajerial koperasi nelayan merah putih yang diampu oleh Kementerian Kelautan," ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Pusat Komcad Bacadnas Brigjen TNI Hengki Yuda Setiawan menjelaskan tujuan pelatihan bukan membentuk peserta menjadi prajurit, melainkan menanamkan disiplin, integritas, dan etos kerja.

"Jadi untuk porsi latihan dari saudara-saudara kita yang tergabung dalam SPPI ini, ini semuanya sudah terukur. Artinya terukur adalah awal kita memang ini bukan untuk menjadi militer, tetapi adik-adik itu disiapkan untuk memiliki disiplin, integritas, dan juga etos kerja," katanya.

Hengki mengklaim, beban latihan disesuaikan sejak awal, sehingga tidak mengedepankan aktivitas fisik yang berat. Dia juga mengatakan ada peserta penyandang disabilitas yang dinyatakan mampu mengikuti pelatihan.

"Dalam proses rekrutmen juga saudara-saudara kita yang disabilitas juga kita terima. Ada yang lulus, ada empat saudara-saudara kita yang disabilitas," imbuh dia.