Piala Dunia Matematika... Pertandingan yang Memunculkan Keraguan Terkait Sistem Baru

Piala Dunia Matematika... Pertandingan yang Memunculkan Keraguan Terkait Sistem Baru

Ketika hasil imbang lebih baik daripada kemenangan

Sepanjang sejarahnya, Piala Dunia selalu identik dengan tekanan yang luar biasa, di mana satu kesalahan saja dapat mengakhiri mimpi yang telah dibangun selama empat tahun, dan setiap gol mampu mengubah dinamika seluruh grup dalam hitungan menit. Oleh karena itu, babak terakhir fase grup selalu identik dengan ketegangan, drama, dan perhitungan rumit yang baru terselesaikan saat peluit akhir dibunyikan.

Namun, edisi Piala Dunia 2026 kali ini, yang untuk pertama kalinya diikuti oleh 48 tim, mengungkap sisi lain yang tidak begitu jelas terlihat pada edisi-edisi sebelumnya; tidak semua pertandingan lagi menjadi pertarungan hidup atau mati, dan hasil imbang tidak lagi menjadi hasil yang ditakuti semua orang, melainkan terkadang justru menjadi hasil yang ideal bagi kedua tim.

Seiring mendekatnya akhir babak penyisihan grup, skenario-skenario yang memunculkan banyak tanda tanya mengenai sistem baru ini mulai berulang, setelah beberapa tim memasuki pertandingan dengan mengetahui sebelumnya bahwa satu poin sudah cukup bagi kedua belah pihak, dan bahwa menyerang mungkin merupakan risiko yang tidak perlu, sementara bertahan dan mengoper bola bisa menjadi pilihan yang paling masuk akal.

Adegan-adegan ini kembali mengangkat pertanyaan yang muncul saat Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) mengumumkan perluasan turnamen beberapa tahun lalu: Apakah penambahan jumlah tim meningkatkan keseruan, ataukah hal itu justru menciptakan sistem yang memberi ruang manuver lebih besar bagi tim-tim dengan mengorbankan semangat persaingan?

  • FBL-WC-2026-MATCH54-RSA-KOR
    AFP

    Rasa takut akan pengucilan tidak lagi seperti dulu

    Meskipun beberapa tim mengalami kekalahan mengejutkan, kemungkinan mereka tersingkir dari turnamen tidak lagi setinggi seperti pada sistem lama, demikian dilaporkan "BBC".

    Timnas Korea Selatan, misalnya, kalah dari Afrika Selatan dengan skor 1-0, namun kekalahan tersebut tidak menempatkan mereka di ambang eliminasi, karena mereka masih memiliki peluang besar untuk lolos ke babak 32 besar sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik.

    Seandainya skenario yang sama terjadi di Piala Dunia 2022, ketika hanya juara dan runner-up setiap grup yang lolos, tim Korea Selatan kemungkinan besar sudah tersingkir, karena margin kesalahan saat itu sangat tipis.

    Namun saat ini, mengumpulkan tiga poin dengan selisih gol yang wajar seringkali sudah cukup untuk tetap bersaing, yang secara signifikan mengurangi tekanan yang biasanya menyertai pertandingan-pertandingan fase grup.

  • Tunisia v Japan: Group F - FIFA World Cup 2026
    Getty Images Sport

    Mengapa FIFA memilih sistem ini?

    Ketika FIFA memutuskan untuk menambah jumlah tim peserta dari 32 menjadi 48, mereka dihadapkan pada dilema organisasi yang besar.

    Format lama memang ideal dari segi olahraga; delapan grup yang masing-masing terdiri dari empat tim, di mana juara dan runner-up dari setiap grup lolos ke babak 16 besar, sebelum babak gugur dilanjutkan secara seimbang.

    Namun, penambahan 16 tim baru membuat proses menuju babak gugur menjadi lebih rumit. Awalnya, FIFA mengusulkan untuk membagi tim-tim tersebut ke dalam 16 grup, masing-masing berisi hanya tiga tim, dan dua tim dari setiap grup akan lolos.

    Meskipun ide tersebut tampak praktis di atas kertas, hal itu mengandung risiko besar, yaitu bahwa pertandingan terakhir di setiap grup akan berlangsung antara dua tim yang sudah mengetahui hasil yang mereka butuhkan untuk lolos, yang membuka peluang terjadinya pertandingan yang kurang kompetitif.

  • TO GO WITH WORLD CUP 2010 PACKAGE IN ARA
    AFP

    Bayangan skandal tahun 1982 kembali mengemuka

    Kekhawatiran ini bukanlah sekadar teori, melainkan didasarkan pada salah satu skandal paling terkenal dalam sejarah Piala Dunia. Pada Piala Dunia 1982, Jerman Barat menghadapi tim nasional Austria dalam pertandingan terakhir fase grup, setelah hasil pertandingan melawan Aljazair sudah pasti.

    Tim Jerman tahu bahwa kemenangan dengan selisih satu gol saja sudah cukup untuk lolos bersama Austria dan menyingkirkan Aljazair. Dan memang, Jerman mencetak gol di awal pertandingan, lalu sisa pertandingan berubah menjadi pertukaran umpan tanpa niat nyata untuk menyerang, sehingga pertandingan berakhir dengan skor 1-0 di tengah kemarahan global yang meluas, yang kemudian dikenal sebagai “Skandal Gijón”.

    Setelah insiden tersebut, “FIFA” memutuskan untuk menggelar pertandingan putaran terakhir di semua grup pada waktu yang bersamaan, guna mencegah tim mana pun mengetahui hasil yang mereka butuhkan sebelum bertanding.

  • Paraguay v Australia: Group D - FIFA World Cup 2026
    Getty Images Sport

    Namun, sistem baru ini menimbulkan masalah yang berbeda

    Setelah membatalkan gagasan grup bertiga, FIFA mengadopsi sistem 12 grup yang masing-masing terdiri dari empat tim. Meskipun dua pertandingan terakhir tetap digelar secara bersamaan, munculnya delapan slot yang diperuntukkan bagi tim-tim peringkat ketiga terbaik justru menimbulkan krisis jenis lain.

    Tim-tim tidak lagi diharuskan menang untuk lolos. Sebaliknya, hasil imbang, dan terkadang bahkan kekalahan dengan selisih skor tipis, sudah cukup untuk tetap bertahan di turnamen. Dengan demikian, perhitungan tim pun bergeser dari mengejar kemenangan menjadi mencari hasil yang paling aman.

    Pertandingan antara Australia dan Paraguay menjadi contoh paling jelas mengenai hal ini. Kedua tim memasuki pertandingan dengan masing-masing mengoleksi tiga poin, serta menduduki peringkat kedua dan ketiga.

    Semua orang menyadari bahwa meraih empat poin akan memberi masing-masing tim peluang yang hampir pasti untuk lolos, baik secara langsung maupun sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik. Dan memang, pertandingan berakhir dengan skor imbang tanpa gol.

    Australia merayakan keberhasilan mereka mengamankan posisi kedua, sementara Paraguay pulang dengan keyakinan bahwa tiket lolos sudah hampir di tangan mereka, kecuali jika terjadi serangkaian hasil yang tidak terduga di grup-grup lainnya.

  • Jordan v Algeria: Group J - FIFA World Cup 2026
    Getty Images Sport

    Austria dan Aljazair... Apakah skenario ini akan terulang?

    Perhatian juga tertuju pada pertandingan antara Austria dan Aljazair di Grup 10. Kedua tim masing-masing mengoleksi tiga poin, dan hasil imbang tampaknya menjadi hasil yang ideal bagi keduanya. Sedangkan kekalahan bisa berarti tersingkir dari turnamen.

    Oleh karena itu, muncul pertanyaan yang tak terelakkan menjelang dimulainya pertandingan: apakah kita akan menyaksikan pertandingan di mana kedua tim benar-benar berupaya meraih kemenangan, ataukah kehati-hatian akan mendominasi segalanya?

    Ironisnya, Aljazair—yang pernah menjadi korban skandal terburuk terkait pengaturan skor di Piala Dunia 1982—kali ini justru berpotensi menjadi salah satu pihak yang paling diuntungkan dari sistem yang memungkinkan lolos melalui posisi ketiga.

    Australia dan Paraguay bukanlah satu-satunya kasus. Di Grup 6, Jepang memasuki pertandingan terakhirnya melawan Swedia dengan mengantongi empat poin, sementara lawannya hanya memiliki tiga poin. Pertandingan berakhir imbang 1-1, hasil yang secara praktis memastikan kedua tim lolos.

    Di Grup 12, situasinya tampaknya serupa, di mana Ghana memiliki empat poin, sementara Kroasia memiliki tiga poin. Skenario seperti ini membuat menit-menit terakhir beberapa pertandingan berubah menjadi pertunjukan umpan-umpan, tanpa adanya keinginan sama sekali untuk mengambil risiko dalam menyerang.

  • Austria v Jordan: Group J - FIFA World Cup 2026
    Getty Images Sport

    Sejarah menunjukkan bahwa hasil imbang tidak selalu menjadi akhir dari segalanya

    Namun, kesamaan kondisi tersebut tidak berarti bahwa setiap pertandingan akan berakhir imbang. Pada Kejuaraan Eropa 2020, Austria dan Ukraina memasuki babak terakhir dengan masing-masing mengoleksi tiga poin, dan hasil imbang hampir cukup untuk memastikan lolosnya kedua tim.

    Namun, Austria memilih bermain untuk meraih kemenangan, dan menang dengan skor 1-0, sementara Ukraina kemudian lolos sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik. Hal ini menegaskan bahwa perhitungan tak selalu menghilangkan semangat kompetisi, tetapi memberikan tim-tim pilihan tambahan yang sebelumnya tidak tersedia.

    Kini, masalahnya tidak hanya berhenti pada peluang lolos. Dalam sistem baru ini, pertandingan antara tim-tim peringkat ketiga ditentukan berdasarkan grup asal mereka. Artinya, beberapa tim mungkin sudah tahu sebelumnya bahwa finis di peringkat ketiga dalam grup akan memberi mereka lawan yang lebih mudah daripada jika mereka finis di peringkat kedua.

    Akibatnya, mereka mungkin dihadapkan pada dilema yang aneh; kemenangan bisa membuat mereka harus menghadapi tim raksasa lebih awal, sementara kekalahan justru bisa memberi mereka jalan yang lebih mudah. Di Grup 10, misalnya, tim yang finis di posisi kedua mungkin akan menghadapi juara Grup 8, sementara tim yang finis di posisi ketiga mungkin akan bertemu dengan juara grup lain yang tampaknya kurang kuat.

    Di sinilah urutan klasemen grup menjadi bagian dari perhitungan taktis, bukan sekadar cerminan dari hasil pertandingan di lapangan.

  • Erbil-Iraq-World-Cup-2026-Fans-Live-Broadcast
    AFP

    Bahkan cuaca pun bisa mengubah rencana

    Ada skenario lain yang tak kalah aneh. Jika salah satu pertandingan di babak terakhir dihentikan karena badai petir atau kondisi cuaca, sementara pertandingan lain di grup yang sama tetap dilanjutkan, kedua tim yang kembali untuk menyelesaikan pertandingan tersebut sudah mengetahui hasil pertandingan lainnya.

    Hal ini memberi mereka keunggulan informasi yang dapat secara langsung memengaruhi gaya permainan dan hasil akhir. Meskipun FIFA menegaskan bahwa pertandingan lain tidak akan dihentikan dalam situasi seperti ini, hal tersebut berpotensi menciptakan situasi yang memberi kesempatan kepada beberapa tim untuk menyesuaikan strategi mereka di tengah pertandingan.

    Pertanyaan terpenting yang muncul setelah sebagian besar pertandingan babak grup berakhir adalah apakah sistem baru ini telah melemahkan nilai persaingan. Semakin besar peluang lolos, semakin berkurang rasa takut tersingkir. Semakin lebar margin aman, semakin berkurang kebutuhan untuk mengambil risiko.

    Karena alasan inilah, beberapa pertandingan pada edisi kali ini kehilangan ketegangan yang menjadi ciri khas Piala Dunia Qatar 2022, ketika tim-tim memasuki putaran terakhir dengan kesadaran bahwa satu gol pun dapat mengubah nasib mereka sepenuhnya.

  • Scotland v Brazil: Group C - FIFA World Cup 2026
    Getty Images Sport

    Apakah solusinya adalah dengan menambah jumlahnya menjadi 64 tim?

    Ironisnya, solusinya mungkin bukanlah kembali ke sistem 32 tim. Pilihan ini tampaknya tidak mungkin, mengingat perluasan turnamen telah menjadi salah satu proyek terpenting Presiden FIFA Gianni Infantino sejak terpilih pada tahun 2016.

    Oleh karena itu, beberapa pengamat berpendapat bahwa memperluas keikutsertaan menjadi 64 tim mungkin lebih masuk akal dari segi organisasi, karena memungkinkan pembagian ulang tim ke dalam 16 grup yang masing-masing terdiri dari empat tim, dengan hanya dua tim dari setiap grup yang lolos, serta mengembalikan kesederhanaan dan keseruan sistem lama.

    Pertanyaan yang tetap muncul adalah: Apakah pengalaman yang dialami pada Piala Dunia 2026 akan mendorong FIFA untuk mempertimbangkan kembali format turnamen di masa depan?

    Jawabannya tidak hanya akan ditentukan oleh apa yang terjadi di babak gugur, tetapi juga oleh apakah pertandingan seperti Australia melawan Paraguay, atau Austria melawan Aljazair, akan menjadi pengecualian sementara, atau awal dari realitas baru yang lebih dikendalikan oleh perhitungan daripada sepak bola itu sendiri.