Mengapa Seseorang Bisa Membuatmu Merasa Tenang?

Mengapa Seseorang Bisa Membuatmu Merasa Tenang?

KOMPAS.com - Pernahkah kamu merasa sangat tenteram hanya dengan berada di dekat seseorang tanpa mereka harus mengucapkan sepatah kata pun?

Ekspresi wajah dan bahasa tubuh mereka seolah mampu mengurai ketegangan otot, serta meredakan pikiranmu yang sedang berkecamuk hebat.

Meski sering dianggap sebagai kecocokan sifat semata, fenomena menenangkan ini sebenarnya memiliki penjelasan medis, yang dikenal dengan istilah koregulasi.

Sejak bayi hingga dewasa, manusia sangat bergantung pada hubungan yang aman dan suportif untuk melakukan proses ini guna meringankan beban emosional.

"Saya suka menganggap koregulasi sebagai 'meminjam' sistem saraf yang teratur," kata terapis komunikasi dan pendiri Empower Family Therapy, Tina Shrader, LMFT, mengutip Real Simple, Kamis (25/6/2026).

Rahasia di balik kehadiran seseorang yang menenangkan

Bukan sekadar empati, tapi proses berbagi ketenangan saraf

Sistem saraf manusia pada dasarnya memiliki cara unik untuk menyelaraskan diri satu sama lain. Kamu bisa menjadi lebih santai saat berada di sekitar orang yang tenang, begitu pula sebaliknya.

Shrader menggunakan interaksi orangtua dan bayi sebagai analogi paling mendasar untuk menjelaskan fenomena menular ini.

"Ketika seorang bayi kesal, orangtua mungkin Shrader mereka, mendiamkan mereka, memeluk mereka, atau berbicara dengan lembut," jelas dia.

"Tetapi, yang sebenarnya paling penting adalah kemampuan orangtua untuk tetap teratur (tenang). Bayi itu meminjam ketenangan tersebut," lanjut Shrader.

Shrader menekankan bahwa proses ini sangat berbeda dengan sekadar empati maupun dukungan emosional yang sering ditawarkan melalui kata-kata manis atau tindakan bantuan yang nyata.

Empati adalah memahami apa yang dirasakan seseorang. Dukungan emosional adalah menawarkan kenyamanan, kepastian, atau bantuan.

"Koregulasi terjadi pada tingkat sistem saraf. Ini bukan tentang apa yang kamu katakan, tetapi lebih kepada apakah kehadiranmu mengkomunikasikan keamanan," jelas Shrader.

Ketika sinkronisasi saraf berubah menjadi bumerang

Otak dan tubuh secara konstan memindai tanda-tanda keamanan atau bahaya dari lingkungan sekitar, mulai dari nada suara hingga gestur tubuh.

Ilustrasi mengobrol. Terlalu memikirkan orang lain, sulit berkata tidak, hingga overthinking ternyata bisa menjadi tanda empati yang tinggi menurut psikolog.
Ilustrasi mengobrol. Terlalu memikirkan orang lain, sulit berkata tidak, hingga overthinking ternyata bisa menjadi tanda empati yang tinggi menurut psikolog.

Saat seseorang merasa aman, detak jantung dan ritme pernapasan akan melambat dengan sendirinya.

Berdasarkan pengamatan menggunakan pemindaian otak, aktivitas pada sirkuit saraf terkait ancaman, seperti area dorsolateral prefrontal cortex, terbukti menurun drastis ketika ada sosok yang tenang di dekatnya.

Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat

Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app