Penyelidikan Kematian Guru PPPK di Mes Polres Pessel, Sampel Cairan Dikirim ke Jakarta

Penyelidikan Kematian Guru PPPK di Mes Polres Pessel, Sampel Cairan Dikirim ke Jakarta

PESISIR SELATAN, KOMPAS.com — Penyidik Polres Pesisir Selatan (Pessel) masih menunggu hasil uji laboratorium forensik untuk memastikan penyebab kematian guru PPPK berinisial IPP (33) yang ditemukan tewas di mes personel Polres setempat.

Sampel berupa cairan telah dikirim ke laboratorium Polri di Jakarta, sementara barang elektronik dikirim ke Puslabfor Polda Riau di Pekanbaru.

Polda Sumatera Barat sebelumnya menyatakan belum menemukan tanda-tanda kekerasan fisik pada tubuh korban. Namun, pihak kepolisian menegaskan belum bisa menarik kesimpulan final terkait penyebab pasti kematian.

Kabid Humas Polda Sumbar Kombes Pol Susmelawati Rosya mengatakan, pihaknya masih harus bersandar pada pembuktian ilmiah (scientific crime investigation) melalui hasil otopsi dan uji laboratorium forensik.

"Sementara dari pemeriksaan awal secara fisik terhadap korban tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan. Namun, hal itu masih harus dilengkapi dengan hasil pemeriksaan laboratorium," ujar Susmelawati.

Untuk mendapatkan hasil yang akurat dan transparan, laboratorium forensik melibatkan dua rumah sakit Bhayangkara sekaligus. Saat ini, sampel hasil otopsi sedang diteliti di RS Bhayangkara Padang.

"Proses pemeriksaan laboratorium masih berjalan. Kemungkinan dalam satu atau dua hari ini sampel akan dibawa ke Jakarta untuk pemeriksaan lanjutan di RS Bhayangkara Jakarta," ucapnya.

Kuasa hukum keluarga korban, Rodi Chandra, menyebutkan penyidik mengajukan sekitar 60 pertanyaan kepada ayah korban Saiful, ibu korban Asnawati, dan kakak sepupu korban Eva, Senin (06/07/2026).

Pemeriksaan berlangsung di ruang Unit Resum Satreskrim Polres Pessel yang terletak di Salido, Kecamatan IV Jurai, Kabupaten Pesisir Selatan.

Rodi menyampaikan, pemanggilan keluarga korban oleh penyidik berkaitan dengan seputaran korban sebelum meninggal dan kedekatan korban dengan anggota Polres Pessel.

"Kurang lebih ada 60 pertanyaan yang diajukan penyidik Polres Pessel kepada keluarga korban, ibu, ayah, dan kakak sepupu korban," ujar Rodi.

Pemeriksaan dimulai pukul 11.00 WIB, diawali dengan pemeriksaan terhadap ibu korban Asnawati, dilanjutkan ayah korban Saiful, dan terakhir kakak sepupu korban Eva.

Rodi menyebutkan, kliennya kooperatif dan memberikan informasi sesuai dengan apa yang terjadi selama proses pemeriksaan.

Keterangan dari terduga berinisial W dan hasil laboratorium forensik dari Jakarta diprediksi akan menjadi kunci utama bagi penyidik untuk menyimpulkan apakah ada unsur tindak pidana atau penyebab lain di balik kematian tragis sang guru PPPK.

Kasi Humas Polres Pessel AKP Suhasril, membenarkan pemanggilan keluarga korban oleh penyidik.

Suhasril menyampaikan, penyidik Polres Pessel berkomitmen profesional dan terbuka dalam proses penegakan hukum.

"Kita sudah mintai keterangan sebanyak 3 orang, dan jikalau masih ada saksi tambahan yang diketahui oleh keluarga silahkan sampaikan ke penyidik," tuturnya.

Lebih lanjut, melalui kuasa hukum, orang tua korban akan mengawal tahapan demi tahapan proses pemeriksaan dan penyelidikan.

"Harapan kami, apa yang menjadi pertanyaan masyarakat serta harapan pihak keluarga korban tentang keadilan benar-benar bisa disampaikan secara terbuka, transparan, dan tidak ada yang ditutupi," ujar Rodi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang