Penjualan Global BYD Naik Juni 2026, Ekspor Melonjak

Penjualan Global BYD Naik Juni 2026, Ekspor Melonjak

JAKARTA, KOMPAS.com - Produsen mobil listrik raksasa asal China, BYD, kembali mencatatkan pertumbuhan penjualan global pada Juni 2026.

Kenaikan ini menjadi yang kedua secara berturut-turut setelah perusahaan berhasil menghentikan tren penurunan yang berlangsung selama delapan bulan.

Berdasarkan laporan perusahaan yang dikutip dari CarNewsChina, pabrikan membukukan penjualan global sebanyak 403.472 unit sepanjang Juni 2026. Angka tersebut meningkat 5,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

BYD Factory di Zhengzhou.
BYD Factory di Zhengzhou.

Sebelumnya, pada Mei 2026, penjualan BYD mulai berbalik tumbuh dengan kenaikan tipis sebesar 0,3 persen secara tahunan.

Kinerja positif tersebut terutama ditopang oleh lonjakan ekspor. Sepanjang Juni, BYD mencatatkan penjualan ke pasar luar negeri sebanyak 175.349 unit atau melonjak 94,7 persen dibandingkan Juni tahun lalu.

Peningkatan ekspor itu berhasil mengimbangi pelemahan permintaan di pasar domestik China. Di negara asalnya, penjualan BYD justru turun sekitar 22 persen secara tahunan, melanjutkan tren penurunan yang telah berlangsung sejak Mei 2025.

Sementara pesaing terdekat, Leapmotor, masih mencatatkan pertumbuhan yang impresif dengan menjual 93.376 unit kendaraan listrik, baik battery electric vehicle (BEV) maupun plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), atau meningkat sekitar 95 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

BYD Percepat Ekspansi Global

Selain mendorong pertumbuhan penjualan, BYD juga terus mempercepat ekspansi ke pasar internasional. Salah satu fokus perusahaan saat ini adalah memperluas kapasitas produksi di Eropa.

China mengekspor sekitar tujuh juta unit mobil per tahun, di mana hampir setengahnya merupakan kendaraan listrik.
China mengekspor sekitar tujuh juta unit mobil per tahun, di mana hampir setengahnya merupakan kendaraan listrik.

Seorang penasihat senior yang menangani operasional BYD di Eropa mengungkapkan bahwa perusahaan hampir menentukan lokasi pembangunan pabrik keduanya di kawasan tersebut. Sebelumnya, BYD telah lebih dulu membangun fasilitas produksi di Hongaria.

Pabrik baru itu diharapkan dapat memperkuat kapasitas produksi BYD di Eropa sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap ekspor kendaraan dari China.

Di sisi lain, Chairman BYD Wang Chuanfu kembali menegaskan target perusahaan untuk menjadi produsen mobil terbesar di dunia dalam lima tahun ke depan.

Target tersebut disampaikan dalam rapat umum pemegang saham tahunan yang digelar di Shenzhen.

Menurut manajemen, pertumbuhan ekspor yang kuat, didukung inovasi teknologi baterai dan pengembangan sistem pengisian daya ultra-cepat, akan menjadi modal utama BYD untuk mewujudkan ambisi tersebut.

Industri Otomotif China Masih Tertekan

Meski penjualan global BYD kembali tumbuh, pasar otomotif China masih menghadapi berbagai tantangan.

Tidak hanya BYD, saham sejumlah produsen kendaraan listrik seperti Leapmotor, Li Auto, dan Xiaomi juga mengalami tekanan akibat perang harga yang semakin ketat serta melemahnya permintaan konsumen.

Pengurangan bertahap berbagai insentif kendaraan listrik turut menekan daya beli masyarakat. Di sisi lain, krisis sektor properti yang berkepanjangan masih membebani nilai aset dan tingkat kepercayaan konsumen di China.

Salah satu produk baru BYD M6 DM sudah ada di Surabaya yang menjadi salah satu kota yang mendapat perhatian besar dari PT BYD Motor Indonesia karena dinilai memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan kendaraan elektrifikasi di kawasan timur Indonesia.
Salah satu produk baru BYD M6 DM sudah ada di Surabaya yang menjadi salah satu kota yang mendapat perhatian besar dari PT BYD Motor Indonesia karena dinilai memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan kendaraan elektrifikasi di kawasan timur Indonesia.

Persediaan kendaraan yang masih tinggi di jaringan dealer juga menjadi tantangan tersendiri bagi para produsen otomotif.

Berdasarkan proyeksi terbaru dari China Passenger Car Association (CPCA), penjualan mobil di China diperkirakan turun hingga 11 persen sepanjang 2026. Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan proyeksi sebelumnya yang memperkirakan penurunan hanya sekitar 1 persen.

Melihat kondisi tersebut, pasar ekspor diperkirakan akan menjadi penopang utama bagi BYD maupun produsen otomotif China lainnya untuk menjaga pertumbuhan bisnis dalam beberapa tahun mendatang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang