Sabrina Chairunnisa Mundur dari S3 UI, Singgung Aturan Absensi yang Dinilai Terlalu Kaku

Sabrina Chairunnisa Mundur dari S3 UI, Singgung Aturan Absensi yang Dinilai Terlalu Kaku

Grid.

ID - Artis Sabrina Chairunnisa resmi mengundurkan diri dari program doktoral (S3) Ilmu Komunikasi di Universitas Indonesia (UI). Melalui unggahan di Instagram, ia membagikan foto surat pengunduran dirinya.

Sabrina mengaku keputusan tersebut bukan hal yang mudah. Mantan istri Deddy Corbuzier ini membutuhkan waktu sebelum akhirnya mantap meninggalkan program S3 yang selama ini diperjuangkannya.

"Hari yang sudah lama saya tunda-tunda akhirnya tiba juga," tulis Sabrina di Instagram, dikutip pada Selasa (7/7/2026).

Ia mengatakan melepaskan sesuatu yang pernah begitu berarti memang terasa berat. Namun, menurutnya, setiap orang harus berani memilih jalan baru untuk terus melangkah.

"Sulit rasanya melepaskan sesuatu yang dulu begitu berarti. Tapi terkadang, untuk bergerak maju, kita harus memiliki keberanian untuk memilih jalan yang berbeda," ungkap Sabrina.

Dalam surat pengunduran dirinya, Sabrina menjelaskan bahwa ia akan pindah ke New York untuk melanjutkan studi. Ia juga menyadari bahwa perubahan adalah bagian dari kehidupan.

"Segalanya berubah. Rencana berubah. Orang-orang pun berubah. Tapi satu hal yang tetap sama, kita harus terus bergerak maju. Selamat tinggal, UI," tulisnya lagi.

Sabrina Chairunnisa resmi mengundurkan diri dari program doktoral (S3) Ilmu Komunikasi di Universitas Indonesia (UI).
Sabrina Chairunnisa resmi mengundurkan diri dari program doktoral (S3) Ilmu Komunikasi di Universitas Indonesia (UI).

Instagram @sabrinachairunnisa_

Selain mengumumkan pengunduran dirinya, Sabrina mengkritik sistem pendidikan tinggi di Indonesia. Menurutnya, aturan mengenai absensi masih terlalu menjadi penentu dalam proses perkuliahan.

"Ini keputusan yang tidak mudah, sejujurnya. Tapi mau bagaimana lagi, saya punya prioritas sendiri sekarang," ujarnya.

Sabrina berharap ke depannya universitas di Indonesia dapat lebih fleksibel. Perempuan 33 tahun itu menilai kehadiran di kelas seharusnya tidak menjadi syarat utama untuk mengikuti ujian atau menentukan kelulusan.

"Dan semoga ke depannya, universitas-universitas di Indonesia tidak menjadikan absensi sebagai bobot utama syarat kelulusan atau syarat ujian akhir, seperti yang dilakukan di negara-negara lain," tutupnya. (*)

PROMOTED CONTENT