BEBERAPA pekan terakhir, publik dibuat bertanya-tanya oleh fenomena yang tampak sederhana, tetapi sulit diabaikan: mengapa sejumlah pusat perbelanjaan besar dan gedung komersial di kota-kota besar tiba-tiba memasang pagar lebih tinggi?
Jika memang tidak ada ancaman, mengapa pengamanan fisik diperketat? Namun, jika ada ancaman yang dianggap cukup serius, mengapa sejumlah pihak justru mengatakan situasi aman?
Di antara dua pertanyaan itulah kegelisahan publik tumbuh. Yang terlihat hanyalah pagar. Yang tidak terlihat adalah rasa takut yang mungkin sedang bekerja di belakangnya.
Pemerintah menyatakan tidak ada masalah keamanan yang melatarbelakangi pemasangan pagar tersebut.
Di sisi lain, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meminta agar pagar-pagar yang ditinggikan itu kelak dibongkar karena kekhawatiran yang berlebihan tidak baik bagi kehidupan kota (Kompas.com, 31/07/2026).
Namun, justru di sinilah letak persoalannya. Dalam kehidupan sosial, tindakan sering kali lebih jujur daripada pernyataan.
Orang yang merasa aman umumnya tidak merasa perlu menambah lapisan perlindungan. Sebaliknya, ketika perlindungan ditingkatkan, publik cenderung membaca adanya kecemasan yang turut meningkat.
Fenomena pagar yang meninggi mungkin bukan persoalan arsitektur. Ia dapat dibaca sebagai gejala psikologis dan politik yang lebih luas mengenai bagaimana ruang publik dipersepsikan oleh para pemilik aset, pengelola kota, dan masyarakat itu sendiri.
Ruang yang Tak Netral
Sosiolog Perancis Henri Lefebvre berpendapat bahwa ruang bukanlah wadah kosong tempat aktivitas berlangsung, melainkan produk sosial yang dibentuk oleh relasi kekuasaan, kepentingan ekonomi, dan praktik kehidupan sehari-hari (Lefebvre, 1991).
Karena itu, pagar tidak pernah sekadar pagar. Ia selalu mengandung pesan.
Ketika mal memasang pagar lebih tinggi, yang berubah bukan hanya tinggi bangunan fisiknya. Yang berubah adalah makna ruang tersebut bagi masyarakat.
Area yang sebelumnya tampak terbuka perlahan menjadi lebih eksklusif. Ia mengirimkan sinyal bahwa terdapat sesuatu yang perlu dijaga, dipisahkan, atau diamankan dari kemungkinan gangguan dari luar.
Dalam perspektif psikologi sosial, perubahan fisik lingkungan dapat membentuk persepsi dan perilaku manusia.
Teori environmental psychology menunjukkan bahwa desain ruang mampu memengaruhi rasa aman, rasa memiliki, hingga pola interaksi sosial (Gifford, 2014).
Karena itu, pagar tinggi bukan hanya hambatan material. Ia juga menghasilkan pesan psikologis. Pesan itu sederhana: ada risiko yang sedang dipertimbangkan.