Ringkasan Berita:
- Ia menegaskan bahwa pelaksanaan pembalasan tidak bergantung pada satu pejabat tertentu, termasuk dirinya sebagai Pemimpin Tertinggi Iran.
- Media pemerintah Iran, Press TV, juga mengutip pernyataannya yang menyebut pembalasan atas "darah suci" Ali Khamenei sebagai kewajiban nasional.
SERAMBINEWS.COM – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas. Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei, menegaskan bahwa negaranya akan membalas kematian ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang disebut tewas dalam serangan Amerika Serikat.
Dalam pernyataan tertulis yang diunggah melalui akun Telegram dan X resminya, Mojtaba Khamenei menegaskan bahwa aksi balas dendam merupakan tuntutan seluruh rakyat Iran.
"Pembalasan ini adalah kehendak bangsa kami dan pasti akan dilaksanakan," tulis Mojtaba Khamenei dalam pernyataan bertanggal 10 Juli.
Ia menegaskan bahwa pelaksanaan pembalasan tidak bergantung pada satu pejabat tertentu, termasuk dirinya sebagai Pemimpin Tertinggi Iran.
Media pemerintah Iran, Press TV, juga mengutip pernyataannya yang menyebut pembalasan atas "darah suci" Ali Khamenei sebagai kewajiban nasional.
Muncul Pertama Kali Setelah Pemakaman
Pernyataan tersebut menjadi kemunculan publik pertama Mojtaba Khamenei sejak pemakaman ayahnya yang berlangsung pada 3-9 Juli di Kompleks Makam Imam Reza, Mashhad.
Selama prosesi pemakaman, Mojtaba tidak terlihat di hadapan publik. Menurut laporan berbagai media internasional, aparat keamanan Iran melarangnya hadir karena khawatir terjadi upaya pembunuhan oleh Israel.
Laporan juga menyebut Mojtaba mengalami luka serius dalam serangan yang menewaskan ayahnya, termasuk cedera pada wajah dan anggota tubuh, sehingga sejak saat itu ia hanya berkomunikasi melalui pernyataan tertulis.
Prosesi pemakaman Ali Khamenei dihadiri ratusan ribu pelayat. Massa meneriakkan slogan "Balas Dendam! Balas Dendam!" sambil mengiringi jenazah sang pemimpin.
Dalam salah satu iring-iringan pemakaman, sejumlah warga bahkan melempari gambar Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan batu sebagai simbol perlawanan.
Trump Kembali Ancam Iran
Di sisi lain, Presiden Donald Trump kembali memperingatkan Iran agar tidak mencoba melakukan serangan balasan terhadap dirinya.
Trump menyatakan bahwa militer Amerika telah menerima instruksi untuk memberikan respons besar jika Iran melakukan upaya pembunuhan terhadap dirinya.
Ia mengklaim Amerika siap melancarkan operasi militer besar-besaran untuk menghancurkan berbagai target di Iran apabila ancaman tersebut benar-benar terjadi.
Gencatan Senjata Kembali Gagal
Ancaman terbaru dari Iran muncul ketika upaya diplomasi kembali menemui jalan buntu.
Sebelumnya, kedua negara sempat menyepakati gencatan senjata melalui Memorandum Islamabad yang dimediasi Pakistan.
Kesepakatan itu mencakup penghentian serangan militer, pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz selama 60 hari, serta pelonggaran blokade terhadap pelabuhan Iran.
Namun, kesepakatan tersebut runtuh setelah Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udara ke sejumlah wilayah Iran.
Washington menyebut operasi itu sebagai respons atas serangan Iran terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
Hingga kini, Qatar masih berupaya menjadi mediator untuk meredakan konflik. Namun, perselisihan mengenai penguasaan dan akses pelayaran di Selat Hormuz masih menjadi hambatan utama dalam proses perundingan antara kedua negara.(*)