JAKARTA, KOMPAS.com – Pemerintah terus mematangkan persiapan penerapan sistem transaksi tol nirsentuh atau Multi Lane Free Flow (MLFF) yang memungkinkan kendaraan melintas tanpa harus berhenti di gerbang tol.
Saat ini, Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) bersama PT Roatex Indonesia Toll System (RITS) tengah menyusun berbagai skenario teknis sebelum pelaksanaan pra-uji coba.
Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Ni Komang Rasminiati mengatakan, koordinasi terus dilakukan dengan RITS selaku badan usaha pelaksana untuk memastikan seluruh aspek teknis siap sebelum pengujian dimulai.
“Kita sedang persiapan untuk menyiapkan ke arah sana secara teknis skenario-skenario yang akan diujicobakan,” ujar Komang, dalam keterangan resmi (5/7/2026).
Meski demikian, pemerintah belum menetapkan jadwal maupun lokasi pelaksanaan pra-uji coba. Menurut Komang, target tersebut baru akan diputuskan setelah seluruh persiapan dinilai matang.
“Ya, kalau persiapannya sudah cukup matang, baru kita bisa menentukan targetnya kapan bisa dilakukan pra uji-coba,” ujarnya.
Lokasi Uji Coba Masih Dikaji
Direktur PT Roatex Indonesia Toll System (RITS) Renaldi Utomo mengatakan pihaknya masih terlibat dalam penyusunan berbagai skenario teknis untuk mendukung pengujian MLFF.
Sejumlah kemungkinan kondisi di lapangan sedang dibahas agar implementasi nantinya berjalan lancar.
Menurut Renaldi, koordinasi antara pemerintah dan investor berlangsung baik. RITS juga melihat pemerintah tetap berkomitmen melanjutkan proyek MLFF.
Hingga kini, lokasi pelaksanaan uji coba masih menunggu keputusan pemerintah. Bali yang sejak awal direncanakan sebagai proyek percontohan masih menjadi salah satu kandidat, meski pengujian juga berpeluang dilakukan di ruas tol lainnya.
Renaldi menjelaskan, kontrak kerja sama yang dimiliki RITS sejak menerima surat perintah kerja pada 15 Maret 2022 tetap mengacu pada konsep MLFF. Namun, selama masa transisi, sistem gerbang tol dengan palang masih dimungkinkan untuk tetap digunakan.
"Kami memang sudah sepakat bahwa dalam proses transisi ini masih mempergunakan barrier. Jadi ada konsep transisi dan ada konsep akhir sesuai desain MLFF. Keputusan akhirnya tentu berada di pemerintah dan kami mendukung," katanya.
Dinilai Mendesak untuk Mengurangi Antrean
Pengamat transportasi dari Politeknik Transportasi Jalan, Anton Budiharjo, menilai penerapan MLFF semakin mendesak seiring meningkatnya volume kendaraan di jalan tol.
Selain mempercepat arus lalu lintas, sistem transaksi elektronik tersebut juga dinilai mampu meningkatkan efisiensi pengelolaan data dan pengawasan.
“Volume lalu lintas terus meningkat. Dengan pembayaran berbasis elektronik, seluruh transaksi akan tercatat secara digital sehingga pengawasan menjadi lebih mudah,” ucap Anton.
“Jika ke depan ada kebijakan baru seperti pajak jalan tol, perhitungannya juga akan lebih sederhana karena seluruh data sudah terekam secara elektronik,” katanya.
Ia menyarankan implementasi MLFF dilakukan secara bertahap, dimulai dari ruas tol yang memiliki kesiapan infrastruktur paling baik, seperti di Jakarta. Menurutnya, uji coba sebaiknya dimulai pada satu gerbang tol terlebih dahulu sebelum diperluas ke gerbang lainnya.
“Mulai dari satu gerbang dulu. Kalau masyarakat sudah merasakan kemudahannya, baru diperluas menjadi dua, tiga, hingga seluruh gerbang. Dalam jangka sekitar lima tahun, seluruh gerbang tol bisa menerapkan sistem multi lane free flow,” ujarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang