DALAM dua dekade terakhir, Indonesia menggelontorkan investasi besar untuk membangun infrastruktur transportasi.
Pelabuhan diperluas, bandara dimodernisasi, jaringan kereta api diperpanjang, transportasi massal perkotaan mulai berkembang, dan konektivitas antar daerah semakin membaik.
Nilai investasi yang tertanam mencapai ratusan triliun rupiah dan akan terus bertambah dalam beberapa tahun ke depan.
Tantangannya kini bukan lagi sekadar membangun, melainkan memastikan seluruh aset tersebut mampu beroperasi secara efisien, terawat dengan baik, dan mengikuti perkembangan teknologi serta regulasi global yang terus berubah.
Perubahan dunia transportasi saat ini berlangsung sangat cepat. Industri pelayaran bergerak menuju bahan bakar rendah emisi.
Teknologi perkeretaapian berkembang dengan siklus yang semakin pendek. Standar keselamatan penerbangan diperbarui secara berkala mengikuti perkembangan teknologi dan tuntutan lingkungan.
Keputusan yang diambil regulator di Eropa, Asia Timur, atau Australia hari ini dapat memengaruhi operasional transportasi Indonesia beberapa tahun ke depan.
Dalam situasi seperti itu, pemerintah membutuhkan lebih dari sekadar laporan berkala atau forum internasional yang berlangsung beberapa kali dalam setahun.
Indonesia membutuhkan sumber informasi yang mampu memantau perkembangan tersebut setiap hari dan menerjemahkannya menjadi masukan kebijakan yang dapat segera ditindaklanjuti.
Di sinilah keberadaan Atase Perhubungan menjadi penting.
Jabatan ini sering dipahami sebagai bagian dari fungsi diplomasi biasa, padahal perannya jauh lebih teknis.
Atase Perhubungan bertugas mengikuti perkembangan regulasi, teknologi, investasi, dan kerja sama internasional yang berkaitan dengan sektor transportasi.
Mereka menjadi perpanjangan tangan pemerintah untuk memastikan Indonesia tidak terlambat membaca perubahan yang sedang terjadi di berbagai belahan dunia.
Penempatan Atase Perhubungan di Canberra Beijing dan Paris menunjukkan arah yang cukup jelas.
Ketiga kota tersebut berada di pusat perkembangan sektor-sektor yang sangat relevan bagi Indonesia. Australia menjadi salah satu rujukan penting dalam pengelolaan maritim dan pengembangan energi hijau.
China memimpin pembangunan dan inovasi perkeretaapian modern. Perancis menjadi salah satu pusat industri penerbangan dunia sekaligus tempat lahir berbagai standar yang memengaruhi tata kelola transportasi global.
Menempatkan sumber daya manusia terbaik di ketiga lokasi tersebut bukan sekadar urusan diplomasi, melainkan bagian dari strategi Menjaga investasi nasional yang nilainya sangat besar.
Bagi Indonesia, Australia memiliki arti strategis karena kedekatan geografis dan kesamaan kepentingan di sektor maritim.
Sebagian besar perdagangan Indonesia masih bergantung pada transportasi laut.
Jalur pelayaran internasional yang melintasi kawasan Asia-Pasifik menjadi urat nadi pergerakan barang, energi, dan logistik.
Pada saat yang sama, sektor pelayaran global sedang menghadapi tekanan untuk menurunkan emisi karbon dan beralih ke teknologi yang lebih ramah lingkungan.
Australia termasuk negara yang bergerak cepat dalam pengembangan energi hidrogen dan berbagai teknologi transportasi rendah emisi.
Berbagai program pemerintah dan lembaga riset di negara tersebut sedang menguji pemanfaatan hidrogen untuk kapal, kereta api, dan kebutuhan industri lainnya.
Perkembangan ini relevan bagi Indonesia yang memiliki potensi besar dalam produksi energi terbarukan.
Namun memiliki potensi saja tidak cukup. Indonesia perlu memahami Bagaimana teknologi tersebut diterapkan, bagaimana regulasinya disusun, dan bagaimana model bisnisnya dikembangkan.
Atase Perhubungan yang ditempatkan di Canberra dapat memainkan peran penting dalam menjembatani kebutuhan tersebut.
Mereka dapat Membangun komunikasi dengan regulator, operator pelabuhan, lembaga penelitian, maupun pelaku industri yang terlibat dalam pengembangan teknologi maritim. Informasi mengenai perubahan standar pelayaran internasional, penerapan green shipping corridor, hingga inovasi pengelolaan pelabuhan dapat disampaikan lebih cepat kepada pemerintah dan pelaku usaha di Indonesia.
Ketika dunia bergerak menuju pelayaran yang lebih hijau, Indonesia tidak cukup hanya mengikuti perkembangan.
Nikmati Fitur Lengkap KARIN dengan KOMPAS.com PLUS
Dapatkan lebih banyak kuota, pahami berita lebih cepat, dan gali konteks mendalam dari artikel KOMPAS.com.