Menhaj: Angka Kematian Jemaah Haji Turun, tetapi Masih Terlalu Tinggi

Menhaj: Angka Kematian Jemaah Haji Turun, tetapi Masih Terlalu Tinggi

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan menilai angka kematian jemaah pada penyelenggaraan ibadah haji 2026 masih terlalu tinggi meski berhasil ditekan sekitar 25 persen dibandingkan musim haji tahun sebelumnya.

Menurut Irfan, ini menjadi salah satu evaluasi besar bagi jajaran Kementerian Haji dan Umrah untuk musim selanjutnya.

“Tahun ini memang kita bisa menekan angka mortalitas sekitar 25 persen. Tapi itu masih terlalu besar angka itu. Angka kematian 350 sekian masih besar,” ungkap Irfan dalam Rakernas Evaluasi Ibadah Haji 2026 di Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Sabtu (4/7/2026).

Oleh karena itu, Irfan mengatakan bahwa istithaah kesehatan adalah pekerjaan rumah (PR) Kementerian Haji. 

Irfan pun mengakui pelayanan haji 2026 di Mina, Mekkah, Arab Saudi, menjadi salah satu titik terlemah dalam penyelenggaraan ibadah haji tahun ini.

“Termasuk bagaimana kita bisa memperbaiki pelayanan kita di Mina. Kita tahu Mina menjadi salah satu titik kelemahan kita dalam pelayanan kemarin,” kata Irfan.

Dia meminta seluruh jajaran Kementerian Haji dan Umrah membuka seluruh persoalan yang muncul selama penyelenggaraan haji. Menurut dia, evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh tanpa saling menyalahkan.

“Saya minta dievaluasi nanti kita tidak ada yang ditutup-tutupi. Semua harus kita buka berbagai kesalahan, berbagai kekurangan kita buka selebar-lebarnya,” tegas dia.

Ia menegaskan, kementeriannya tidak boleh cepat berpuas diri meski penyelenggaraan haji tahun ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak.

Sebab, masih banyak kekurangan yang harus dibenahi untuk meningkatkan kualitas layanan pada musim haji berikutnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Nikmati Fitur Lengkap KARIN dengan KOMPAS.com PLUS

Dapatkan lebih banyak kuota, pahami berita lebih cepat, dan gali konteks mendalam dari artikel KOMPAS.com.