Liga Aspal Bukan Sekadar Kreativitas, tetapi Cermin Ruang Bermain yang Hilang

Liga Aspal Bukan Sekadar Kreativitas, tetapi Cermin Ruang Bermain yang Hilang

JAKARTA, KOMPAS.com - Sorak-sorai puluhan warga memecah sore di gang sempit kawasan Menteng Jaya, Jakarta Pusat.

Di tengah jalan kampung yang biasanya dilintasi sepeda motor, sebuah bola bergulir cepat dari kaki ke kaki.

Seorang bocah berbaju merah menggiring bola sambil menghindari hadangan lawan. Sesekali tubuhnya bergesekan dengan permukaan aspal yang keras.

Di belakang gawang sederhana dari pipa besi dan bambu, para ibu berteriak memberi semangat.

Anak-anak lain berlarian mengikuti setiap serangan, sementara warga memenuhi sisi jalan, mengubah lorong permukiman menjadi tribun dadakan.

Tak ada rumput hijau. Tak ada tribun megah. Yang ada hanya jalan aspal, jaring gawang seadanya, serta mimpi-mimpi kecil yang tetap tumbuh meski ruang bermain kian menyempit.

Di kampung inilah lahir "Liga Aspal", kompetisi sepak bola U-13 yang digagas Karang Taruna RW 08 Kelurahan Menteng.

Bagi warga, turnamen itu bukan sekadar hiburan, melainkan jalan keluar dari satu persoalan yang sudah lama mereka rasakan, tidak adanya lapangan.

Tak punya pilihan

Ketua Karang Taruna RW 08 Menteng, Andicka Prasetia atau Odoy, bercerita bahwa kawasan Menteng Jaya hampir tak lagi memiliki lahan terbuka.

Permukiman yang padat membuat anak-anak kehilangan tempat bermain. Lapangan kosong nyaris tidak tersisa.

"Di kampungan ini memang sudah penuh rumah semua. Sudah enggak ada lagi lahan kosong buat main bola. Kalaupun ada, cuma lapangan badminton kecil dan enggak maksimal," ujar Andicka kepada Kompas.com, Kamis (2/7/2026).

Pilihan lain sebenarnya ada, yakni menyewa lapangan futsal di luar kampung. Namun, biayanya dinilai terlalu mahal bagi sebagian besar keluarga.

Untuk bermain selama satu jam, warga harus mengeluarkan uang sekitar Rp100.000 hingga Rp150.000.

Akibatnya, banyak anak akhirnya tetap bermain di jalan.

Pemandangan itu setiap hari dilihat Andicka. Dari situlah muncul gagasan sederhana.

Kalau anak-anak memang selalu bermain di jalan, mengapa tidak dibuat lebih aman dan lebih teratur?

Liga aspal pun lahir.

Pertandingan Liga Aspal, turnamen sepak bola anak-anak U-13 yang digelar di jalanan Kampung Menteng Jaya, RW 08, Menteng, Jakarta Pusat
Pertandingan Liga Aspal, turnamen sepak bola anak-anak U-13 yang digelar di jalanan Kampung Menteng Jaya, RW 08, Menteng, Jakarta Pusat

Lapangan yang tak pernah terwujud

Sebenarnya, warga pernah mencoba mencari solusi yang lebih layak.

Di depan permukiman terdapat lahan kosong milik PT KAI yang selama bertahun-tahun terbengkalai dan dipenuhi sampah.

Nikmati Fitur Lengkap KARIN dengan KOMPAS.com PLUS

Dapatkan lebih banyak kuota, pahami berita lebih cepat, dan gali konteks mendalam dari artikel KOMPAS.com.

Pertandingan Liga Aspal, turnamen sepak bola anak-anak U-13 yang digelar di jalanan Kampung Menteng Jaya, RW 08, Menteng, Jakarta Pusat
Pertandingan Liga Aspal, turnamen sepak bola anak-anak U-13 yang digelar di jalanan Kampung Menteng Jaya, RW 08, Menteng, Jakarta Pusat (KOMPAS.com/Ridho Danu Prasetyo)
Lokasi pertandingan Liga Aspal, turnamen sepak bola anak-anak U-13 yang digelar di jalanan Kampung Menteng Jaya, RW 08, Menteng, Jakarta Pusat
Lokasi pertandingan Liga Aspal, turnamen sepak bola anak-anak U-13 yang digelar di jalanan Kampung Menteng Jaya, RW 08, Menteng, Jakarta Pusat(KOMPAS.com/Ridho Danu Prasetyo)