Ketua IDI TTU Kenang Pengabdian dan Keteladanan dr Icha: Kami Kehilangan Putri Terbaik

Ketua IDI TTU Kenang Pengabdian dan Keteladanan dr Icha: Kami Kehilangan Putri Terbaik

KUPANG, KOMPAS.com – Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Timor Tengah Utara (TTU), dr. Maria Clemensiana Baba, Sp.

N, menyebut almarhumah dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dr. Icha sebagai sosok dokter yang menjadi teladan dalam pengabdian kepada masyarakat.

Dalam pernyataan yang disampaikan saat mengenang kepergian dr. Icha, Maria mengaku kehilangan tersebut menjadi duka yang tidak pernah dibayangkan oleh keluarga besar IDI TTU.

"Ini peristiwa yang tidak pernah kami duga. Kami kehilangan putri terbaik TTU," ujar Maria di rumah duka RSS Baumata Kupang, Senin (29/6/2026).

Menurut dia, dr. Icha dikenal sebagai pribadi yang ceria, ramah dan selalu memberikan pelayanan terbaik kepada pasien selama bertugas di sejumlah fasilitas kesehatan di Kabupaten TTU, yakni Puskesmas Ponu, Puskesmas Mamsena, Puskesmas Bitefa, serta Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Leona.

Berdasarkan berbagai kesaksian yang diterima IDI TTU, dr. Icha tidak hanya menjalankan tugas sebagai dokter, tetapi juga mengedepankan sikap humanis dalam melayani masyarakat.

"Dari dokter Icha ternyata kami belajar banyak hal. Hospitality atau keramahtamahan selalu beliau utamakan. Beliau berjuang memberikan pelayanan prima sesuai standar profesi, namun akhirnya justru meninggalkan kami dengan duka yang sangat mendalam," katanya.

Maria menilai dr. Icha merupakan pahlawan sejati karena memilih jalan pengabdian yang tidak mudah.

"Ketika banyak orang sedang beristirahat, dokter tetap berjaga. Ketika orang lain menghindari risiko, dokter justru mendekat untuk menolong. Ketika seseorang berada di ambang antara hidup dan mati, dokter hadir membawa ilmu, harapan, dan ikhtiar untuk menyelamatkan," ujarnya.

Namun, lanjut Maria, masyarakat kerap melupakan bahwa di balik jas putih terdapat sosok manusia biasa yang juga memiliki batas kemampuan, emosi dan beban psikologis.

"Sering kali kita lupa bahwa di balik jas putih itu ada seorang manusia. Ada seorang anak yang dicintai keluarganya, ada sahabat, ada pribadi yang juga bisa merasa lelah, takut, sedih, dan terluka. Seorang dokter bukan manusia yang kebal terhadap tekanan hidup," tuturnya.

Karena itu, menurut Maria, kepergian dr. Icha harus menjadi momentum bagi semua pihak untuk membangun budaya yang lebih menghargai tenaga kesehatan.

Ia mengajak masyarakat mengedepankan dialog, empati dan penyelesaian yang bermartabat apabila hasil pelayanan kesehatan belum sesuai harapan.

"Tenaga kesehatan bekerja dengan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan niat untuk menolong. Mereka bekerja bukan untuk mencelakakan siapa pun," katanya.

Maria juga mengingatkan para tenaga kesehatan agar saling menjaga dan tidak membiarkan rekan sejawat menghadapi tekanan seorang diri.

"Tidak ada seorang pun yang begitu kuat sehingga tidak membutuhkan teman untuk mendengar keluh kesahnya. Kepedulian sesama rekan, dukungan keluarga, masyarakat, dan institusi merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan jiwa tenaga kesehatan," ujarnya.