MEDAN, KOMPAS.com – Kasus dugaan satu kompi anggota TNI menggondol 16 ekor lembu milik seorang janda di Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara, berakhir damai. Kedua pihak yang berselisih telah mencabut laporan masing-masing di kepolisian.
Komandan Kodim (Dandim) 0209/Labuhanbatu Letkol Kav Hanung Kaptiaji mengatakan, perdamaian telah dicapai antara kedua pihak yang bersengketa, termasuk dengan personel TNI yang berada di lokasi saat kejadian.
"Soal sapi, kedua belah pihak sudah damai," kata Hanung kepada Kompas.com melalui sambungan telepon, Selasa (14/7/2026).
Hanung menuturkan, dalam proses perdamaian tersebut, kedua belah pihak juga telah menyampaikan permintaan maaf karena menyeret nama institusi TNI.
"Mereka sudah minta maaf. Memang personel ada di lokasi tapi dalam situasi mengamankan. Tidak terlibat apa-apa. Itu sudah diakui juga oleh pihak yang bertikai," ungkapnya.
Hal senada disampaikan kuasa hukum Martogi Sinaga, Dwi Ngai Sinaga. Menurut dia, kliennya telah berdamai dengan pria berinisial J yang sebelumnya dilaporkan.
"Kemarin sudah ada pertemuan di Polres Labuhanbatu. Hasilnya kedua pihak berdamai dan mencabut masing-masing laporannya," ujar Dwi melalui sambungan telepon.
Berawal dari video viral
Kasus ini mencuat setelah beredar video di media sosial yang menarasikan satu kompi anggota TNI dipergoki warga menggondol 16 ekor lembu milik seorang janda di Kabupaten Labuhanbatu.
Dalam video berdurasi singkat itu, tampak sejumlah pria berbadan tegap berjalan kaki di jalan yang gelap. Warga kemudian menyorotkan cahaya senter ke arah mereka.
"Geger, warga Labuhanbatu pergoki satu kompi anggota TNI yang diduga digodol 16 ekor lembu milik janda," demikian narasi dalam unggahan video tersebut.
Dwi sebelumnya menjelaskan, peristiwa itu terjadi pada 19 Mei 2026.
"Ya kami menduga lembu itu dibawa sejumlah oknum TNI," kata Dwi kepada Kompas.com, Senin (29/6/2026).
Menurut Dwi, Martogi mulai beternak lembu sejak 2018. Di lokasi yang berseberangan, pria berinisial J juga memelihara ternak.
"Ladang mereka berseberangan. Terus kabarnya penjaga lembu J ini menjuali lembunya. Kehilangan lembu lah J ini sebanyak 32 ekor," ungkap Dwi.
Belakangan, Martogi dituduh mencuri 16 ekor lembu milik J. Dwi menilai tuduhan itu janggal karena terdapat jeda waktu cukup lama antara hilangnya ternak dan laporan ke polisi.
"Anehnya J ini kehilangan Februari tapi melaporkan klien kita itu ke Polres pada April. Ada rentang waktu di situ," ucap Dwi.
"Nah, rencananya 20 Mei itu mau dimediasi di Polres. Sialnya, 19 malam itu sudah diangkati lembu korban seperti di video viral," sambungnya.
Dwi juga menduga keterlibatan oknum TNI karena anak Martogi mengenal salah seorang rekan J berinisial G yang disebut sebagai anggota TNI.
"Diduga si G ini lah yang mengarahkan orang ramai di video itu mengambil lembu korban. Dipidahkan ke ladang J, disuntik bius, lalu dibawa pergi entah kemana," sebutnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang