JAKARTA, KOMPAS.com - Porter atau kuli panggul di Pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara, menghadapi dilema saat menawarkan jasa angkut kepada penumpang karena khawatir dicap melakukan pemaksaan atau premanisme.
Salah seorang porter, Tagor (26), mengatakan kondisi tersebut membuat pekerjaannya semakin sulit.
Menurutnya, porter kerap disalahartikan jika terlalu aktif menawarkan jasa mereka. Sebaliknya, jika hanya menunggu, kesempatan memperoleh penghasilan semakin kecil.
"Kalau kita misal maksa nih takut dikira pemaksaan, premanisme, apalah. Padahal mah kan kita hanya nyari sesuap nasi lah kata istilahnya gitu. Kalaupun seandainya kita biarin ya lama-lama kita enggak ada hasil, enggak ada penghasilan gitu buat di rumah," kata dia saat ditemui Kompas.com pada Selasa (30/6/2026).
Menurut Tagor, kondisi tersebut terjadi di tengah semakin berkurangnya penggunaan jasa porter.
Meski penumpang masih ramai, terutama pada akhir pekan, tetapi semakin sedikit yang membutuhkan bantuan porter karena akses menuju kapal kini lebih mudah.
"Kalau pelabuhan sih penumpang sih banyak. Setiap hari Sabtu tuh, pariwisata. Kalau untuk kita pendapatan mengeluh. Enggak kayak-kayak dulu-dulu gitu," ujarnya.
Tagor mengatakan, penghasilannya kini berkisar Rp 70.000 hingga Rp 90.000 per hari.
Upah tersebut berasal dari pembagian hasil pekerjaan yang dikumpulkan koordinator porter berdasarkan jumlah pekerjaan yang diperoleh dalam sehari.
Kondisi sulitnya menjadi porter juga dirasakan Timan (40). Menurut dia, penghasilan porter tidak menentu, bahkan ada kalanya tidak memperoleh pekerjaan sama sekali.
"Kadang-kadang Rp 50.000, kadang enggak dapet, kadang-kadang ya lebih," ucap dia kepada Kompas.com, Selasa.
Timan mengatakan, pekerjaan porter saat ini lebih banyak berasal dari pengangkutan barang kebutuhan warung atau barang kiriman dibanding barang bawaan wisatawan.
Aktivitas pekerjaan tidak lagi seramai dulu.
Timan berharap porter mendapat kesempatan lebih besar untuk menangani barang yang keluar masuk Pelabuhan Muara Angke sehingga seluruh porter dapat memperoleh pekerjaan.
"Ya lebih enaknya biar barang itu bisa kebongkar rombongan kita semua lah. Kadang-kadang ada yang mau, ada yang enggak. Kalau ada yang mengerti (kondisi kami) tuh ya mau, enggak apa-apa 'biar sama-sama makan' katanya. Kalau nggak ngerti mah enggak, enggak mau dia," tambah dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangNikmati Fitur Lengkap KARIN dengan KOMPAS.com PLUS
Dapatkan lebih banyak kuota, pahami berita lebih cepat, dan gali konteks mendalam dari artikel KOMPAS.com.