Jejak Tuanku Pamansiangan di Tanah Datar, dari Jaringan Syattariyah hingga Perlawanan terhadap Belanda

Jejak Tuanku Pamansiangan di Tanah Datar, dari Jaringan Syattariyah hingga Perlawanan terhadap Belanda

TANAH DATAR, KOMPAS.com – Jejak Tuanku Pamansiangan tidak hanya tersimpan di makam yang berada di Nagari Koto Laweh, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

Namanya juga melekat pada sebuah masjid tua yang diperkirakan berdiri sejak abad ke-19.

Di tempat itu, jejak pendidikan Islam, jaringan ulama, tradisi keagamaan, hingga pergulatan masyarakat Minangkabau pada masa Perang Paderi bertemu dalam satu ruang sejarah.

Peneliti Sejarah, Fikrul Hanif Sufyan bersama timnya kembali menelusuri jejak tersebut melalui riset bertajuk "Menjahit Memori Kolektif melalui Dokumentasi Budaya: Surau dan Makam Tuanku Pamansiangan di Nagari Koto Laweh, Kabupaten Tanah Datar".

Riset dilakukan pada 13-26 Juli 2026 di Nagari Koto Laweh dan Nagari Paninjauan, Kabupaten Tanah Datar.

Kepada Kompas.com, Senin (27/7/2026), Fikrul mengatakan, penelitian itu berangkat dari upaya mendokumentasikan sejarah lokal yang masih tersimpan dalam situs fisik maupun ingatan masyarakat.

"Surau dan makam Tuanku Pamansiangan bukan sekadar bangunan dan tempat pemakaman. Keduanya merupakan penanda ruang yang menyimpan lapisan sejarah," kata Fikrul.

Menurut dia, dari kedua situs tersebut, tersambung kisah tentang pendidikan keagamaan, jaringan ulama, kehidupan masyarakat nagari, hingga perlawanan terhadap kekuasaan kolonial.

Jejak Ulama dari Koto Laweh

Sejumlah sumber lokal dan penelitian mengenai Masjid Tuanku Pamansiangan menyebut, tokoh ini bernama asli Abdullah.

Sebuah tulisan mengenai sejarah Tuanku Pamansiangan menyebut, ia lahir sekitar 1771 dan belajar agama kepada Syekh Kapeh-Kapeh Paninjauan, yang disebut sebagai murid Syekh Burhanuddin dari Ulakan.

Setelah menyelesaikan pendidikan agama, Abdullah kembali ke Koto Laweh dan mendirikan surau untuk mengajarkan Islam.

Sumber lain yang dimuat dalam jurnal seni rupa menyebut Tuanku Pamansiangan sebagai salah satu murid Syekh Burhanuddin.

Setelah belajar agama di kawasan Tanjung Medan, Ulakan, ia disebut kembali ke Koto Laweh untuk mengembangkan pendidikan Islam.

Dari surau itulah kemudian terbentuk lingkungan pendidikan keagamaan yang menarik kedatangan murid dari berbagai nagari.

Nama Pamansiangan sendiri dikaitkan dengan lokasi surau yang dahulu merupakan kawasan rawa dan banyak ditumbuhi tanaman mansiang atau mansiro.

Tanaman tersebut dikenal masyarakat sebagai bahan untuk membuat tikar dan topi.

Riwayat lokal Nagari Koto Laweh menyebut gelar Tuanku diberikan kepada Pamansiangan setelah ia kembali dari belajar di Aceh pada 1818.

Namun, detail mengenai perjalanan pendidikan dan hubungan keilmuannya masih perlu ditelusuri lebih lanjut melalui sumber sejarah primer.

Yang lebih jelas, jejaknya kemudian tertanam kuat di Koto Laweh melalui surau yang menjadi pusat kegiatan keagamaan dan pendidikan masyarakat.

Surau tersebut pada perkembangan berikutnya dikenal sebagai Masjid Tuanku Pamansiangan.

Penelitian mengenai ornamen masjid itu menyebut, bangunan tersebut memiliki berbagai motif khas Minangkabau, antara lain pucuak rabuang, sakek tagantuang, pandan tajulai, sikambang manih, aka cino, saik galamai, mangkuto, kuciang lalok, dan kaligrafi.

Ornamen itu menghiasi sejumlah bagian bangunan, seperti tiang, mimbar, dinding, dan jendela.

Penelitian tersebut juga mencatat adanya kaligrafi yang memuat informasi mengenai sejarah pembangunan masjid.

Masjid tersebut kemudian menjadi salah satu penanda penting sejarah Koto Laweh.