"Indonesia Indah, tapi Kami Tak Ada Masa Depan di Sini" Curhat Pengungsi Afghanistan di Jaksel

"Indonesia Indah, tapi Kami Tak Ada Masa Depan di Sini" Curhat Pengungsi Afghanistan di Jaksel

JAKARTA, KOMPAS.com - Seorang pengungsi asal Afghanistan, Jafaar (47), mengaku telah menetap di Indonesia selama 12 tahun. Awalnya, ia ditempatkan di Surabaya, Jawa Timur lalu pindah ke Jakarta pada 2024.

Ia menilai, masa tinggalnya sebagai pengungsi di Indonesia sudah terlalu lama. Padahal, ia mengaku mendapat informasi dari United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) atau Komisariat Tinggi PBB bahwa proses pemindahan ke negara tujuan (resettlement) akan berlangsung sekitar tiga tahun.

Karena itu, Jafaar bersama sejumlah pengungsi lainnya mendirikan tenda di trotoar belakang kantor UNHCR di Jalan Setiabudi Selatan, Setiabudi, Jakarta Selatan.

“Saya datang ke sini, ke UNHCR, karena saya butuh akomodasi. Saya butuh makanan, pengobatan, semua. Saya punya sakit keras,” kata Jafaar dengan tongkat merahnya saat ditemui di lokasi, Jumat (3/7/2026).

Sebelumnya, Jafaar dan para pengungsi lainnya sempat ditertibkan karena menduduki trotoar yang dinilai mengganggu ketertiban umum.

Mereka kemudian dibawa ke Rumah Detensi Imigrasi Jakarta dan tinggal di sana selama 15 hari sebelum akhirnya dipersilakan keluar.

Setelah itu, mereka diminta tidak lagi menempati trotoar. Namun, para pengungsi mengaku tidak memiliki tempat tinggal karena tidak mampu menyewa rumah.

Sebagian pengungsi memang sempat menerima bantuan biaya hidup dari International Organization for Migration (IOM). Namun, bantuan tersebut tidak diberikan secara berkelanjutan.

Kondisi itulah yang mendorong mereka menggelar aksi protes. Tanpa diizinkan bekerja, mereka tidak memiliki sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Jafaar mengaku menilai Indonesia sebagai negara yang indah. Namun, baginya, keindahan itu tidak cukup. Ia menginginkan kehidupan yang aman, tenang, dan memiliki kepastian masa depan.

Selain itu, ia berharap bisa memperoleh pengobatan yang lebih memadai untuk penyakit yang dideritanya, yang menurutnya tidak dapat ditangani hanya melalui layanan puskesmas.

“Saya mau kebebasan, saya mau segera di-resettlement, saya mau kerja. Sudah cukup 12 tahun ini. Terima kasih untuk semuanya. Saya mau pergi dari negara ini. Negara ini memang indah, tapi ini bukan tempat saya. Kami enggak punya masa depan di Indonesia,” tutur Jafaar.

Ia berharap dapat segera diberangkatkan ke negara tujuan melalui program pemukiman kembali. Dengan begitu, ia bisa bekerja dan membantu memenuhi kebutuhan istri serta anaknya yang hingga kini masih berada di Afghanistan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Nikmati Fitur Lengkap KARIN dengan KOMPAS.com PLUS

Dapatkan lebih banyak kuota, pahami berita lebih cepat, dan gali konteks mendalam dari artikel KOMPAS.com.