- IHSG di Bursa Efek Indonesia dan nilai tukar rupiah mencatatkan penguatan pada perdagangan Senin pagi ini.
- Bursa saham Amerika Serikat dan regional Asia tertekan akibat aksi ambil untung pada sektor saham teknologi.
- BNI Sekuritas memproyeksikan IHSG akan bergerak mendatar pada rentang 5.850 hingga 6.000 akibat sentimen pasar global.
Suara.com - Pasar keuangan domestik mengawali perdagangan awal pekan dengan riak positif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Senin pagi mencatatkan pembukaan di zona hijau.
Indeks bergerak menguat sebesar 35,90 poin atau 0,61 persen, membawa IHSG parkir ke posisi 5.932,03.
Apresiasi ini juga diikuti oleh kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 yang merangkak naik 0,98 poin atau 0,17 persen menuju level 584,70.
Selaras dengan performa pasar modal, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) juga menunjukkan taji pada pembukaan perdagangan Senin pagi.
Mata uang Garuda bergerak menguat 63 poin atau 0,35 persen ke posisi Rp17.859 per dolar AS, menguat dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya yang sempat tertahan di level Rp17.922 per dolar AS.
Kondisi hijau di pasar domestik ini berbanding terbalik dengan performa mayoritas indeks saham di Wall Street yang justru tertekan pada penutupan perdagangan Jumat malam (26/6).
Indeks Nasdaq Composite memimpin pelemahan dengan turun 0,24%, diikuti S&P 500 yang terkoreksi tipis 0,05%, dan Dow Jones Industrial Average yang berkurang 0,09%.
Tekanan utama di bursa AS bersumber dari rilis laporan The New York Times yang menyebutkan bahwa OpenAI tengah mempertimbangkan untuk menunda rencana Penawaran Umum Perdana (Initial Public Offering/IPO) hingga tahun depan.
Langkah penundaan ini dipicu oleh kurang bergairahnya kinerja saham SpaceX pasca-melantai di bursa serta tingginya volatilitas pada portofolio saham berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Akibat sentimen tersebut, saham-saham produsen chip mengalami koreksi massal:
Micron Technology merosot lebih dari 6%.
Intel terpangkas hingga melampaui 3%.
Advanced Micro Devices (AMD) menyusut sekitar 2%.
Pelemahan di sektor teknologi S&P 500 yang turun sekitar 1% tersebut berhasil diredam oleh lompatan saham sektor kesehatan. Saham Eli Lilly melonjak 7%, disusul Johnson & Johnson serta AbbVie yang masing-masing menguat di atas 4%.
Di sisi lain, rilis data kepercayaan konsumen AS yang solid dan prospek inflasi yang membaik sempat memberikan asupan energi bagi pasar.
Namun, optimisme tersebut tertahan oleh pernyataan hawkish Presiden The Fed Minneapolis, Neel Kashkari, yang mengisyaratkan masih terbukanya ruang untuk satu kali kenaikan suku bunga acuan pada tahun ini guna meredam imbas inflasi akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
- IHSG di Bursa Efek Indonesia dan nilai tukar rupiah mencatatkan penguatan pada perdagangan Senin pagi ini.
- Bursa saham Amerika Serikat dan regional Asia tertekan akibat aksi ambil untung pada sektor saham teknologi.
- BNI Sekuritas memproyeksikan IHSG akan bergerak mendatar pada rentang 5.850 hingga 6.000 akibat sentimen pasar global.
Lanskap pasar modal regional Asia juga terpantau didominasi oleh warna merah pada akhir pekan lalu. Saham-saham sektor teknologi berkapitalisasi besar (big-cap) kehilangan tenaga akibat aksi ambil untung (profit taking) setelah sempat menguat signifikan sehari sebelumnya.
Penurunan terdalam dicatatkan oleh indeks Kospi Korea Selatan yang ambles 5,81%, disusul indeks Nikkei 225 Jepang yang jatuh hingga 4,15%, dan indeks Taiex Taiwan yang terpangkas 3,64%.
Sementara itu, indeks Hang Seng Hong Kong melemah 1,76% dan Straits Times Singapura turun 0,52%. Kontras dengan tren regional, indeks ASX 200 Australia naik tipis 0,18% bersama FTSE Malaysia yang menguat 0,24%.
Fluktuasi tajam ini mencerminkan tingginya kekhawatiran para pelaku pasar global mengenai apakah realisasi pertumbuhan kinerja emiten raksasa teknologi mampu memenuhi ekspektasi tinggi yang selama ini sudah terlanjur tecermin pada harga saham mereka. Langkah Apple yang memangkas proyeksi optimisme AI global setelah menaikkan harga perangkat Mac juga menambah beban sentimen bagi pergerakan saham cip di akhir pekan.
Menyikapi kombinasi antara penguatan domestik dan volatilitas tinggi di pasar global, tim riset BNI Sekuritas memproyeksikan pergerakan IHSG pada hari ini berpotensi mengalami konsolidasi atau bergerak mendatar (sideways). Rentang pergerakan indeks hari ini diperkirakan akan tertahan di dalam teritori area 5.850 hingga 6.000.
Adapun peta level teknis yang perlu dicermati oleh para pelaku pasar adalah sebagai berikut:
Level Support: 5.750 – 5.850
Level Resistance: 6.000 – 6.100
Disclaimer: Perkembangan harga saham dan nilai tukar mata uang bersifat dinamis dan fluktuatif dari waktu ke waktu. Artikel ini disajikan murni sebagai informasi perkembangan pasar modal dan bukan merupakan bentuk rekomendasi mutlak untuk melakukan tindakan jual atau beli terhadap instrumen aset finansial tertentu.
Setelah Dibuka Menguat IHSG Langsung Anjlok di Senin Pagi, BBCA Mulai Diborong Asing
Bisnis | Senin, 29 Juni 2026 | 09:19 WIB
IHSG Diproyeksi Bergerak Terbatas, Saham-saham Ini Bisa Jadi Cuan?
Bisnis | Senin, 29 Juni 2026 | 07:24 WIB
Merdeka Gold Resources Ukir Sejarah, Saham EMAS Resmi Melantai di Bursa Hong Kong
Bisnis | Sabtu, 27 Juni 2026 | 10:18 WIB
IHSG Ambles 4,55% Sepekan, Kapitalisasi Pasar BEI Susut Rp486 Triliun
Bisnis | Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:31 WIB
Biang Kerok IHSG Melorot 1,72% ke Level 5.896
Bisnis | Jum'at, 26 Juni 2026 | 17:26 WIB
Rupiah Berotot Sore Ini ke Level Rp17.922/USD
Bisnis | Jum'at, 26 Juni 2026 | 16:09 WIB
Setelah Dibuka Menguat IHSG Langsung Anjlok di Senin Pagi, BBCA Mulai Diborong Asing
Bisnis | Senin, 29 Juni 2026 | 09:19 WIB
Konflik AS - Iran Kembali Memanas, Harga Minyak Dunia Naik ke Level 72 Dolar AS
Bisnis | Senin, 29 Juni 2026 | 09:11 WIB
Update Harga Emas Antam, UBS, dan Galeri 24 di Pegadaian Hari Ini
Bisnis | Senin, 29 Juni 2026 | 09:09 WIB
Kenaikan Cukai Rokok Dinilai Bisa Pangkas Ribuan Lapangan Kerja, Ini Kata Said Iqbal
Bisnis | Senin, 29 Juni 2026 | 09:04 WIB
OJK Ungkap Ancaman Baru Perbankan: Daya Beli Turun, PHK Naik, Risiko Kredit Membesar
Bisnis | Senin, 29 Juni 2026 | 08:56 WIB
Pertamina Raih Cuan Banyak dari Investasi EBT di Filipina
Bisnis | Senin, 29 Juni 2026 | 08:55 WIB
Negara BIsa Kehilangan Triliunan Penerimaan Negara dari Industri Rokok
Bisnis | Senin, 29 Juni 2026 | 08:42 WIB
Seluruh Hotel Milik BUMN Kini Dipegang InJourney
Bisnis | Senin, 29 Juni 2026 | 08:20 WIB