JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) bakal memperketat pemeriksaan kesehatan calon jemaah haji, terutama bagi mereka yang memiliki penyakit penyerta (komorbid), sebagai bagian dari evaluasi penyelenggaraan ibadah haji 2026.
"Tahun depan ini juga jadi evaluasi kami, kami harus lebih ketat terkait dengan istitaah kesehatan," ujar Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak, usai rapat koordinasi di Gedung Kementerian Haji, Jakarta, Kamis (25/6/2026).
Dahnil mengatakan jumlah jemaah haji Indonesia yang wafat pada penyelenggaraan haji tahun ini sekitar 350 orang.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan tahun lalu yang mencapai 467 orang.
Menurut Dahnil, calon jemaah yang memiliki penyakit penyerta (komorbid), potensi demensia, maupun penyakit berbahaya lainnya akan menjalani pemeriksaan lebih ketat dan bisa saja tidak diberangkatkan.
"Jadi mau tidak mau, kami harus lebih tegas terkait dengan jemaah-jemaah yang memiliki komorbid, kemudian misalnya potensi dimensia, kemudian penyakit-penyakit yang berbahaya lainnya untuk tidak bisa berangkat," katanya.
Selain memperketat pemeriksaan kesehatan, Kementerian Haji juga akan memperkenalkan program manasik kesehatan bagi jemaah yang dijadwalkan berangkat pada 2027.
Program tersebut bertujuan mempersiapkan kondisi fisik jemaah selama satu tahun sebelum keberangkatan.
"Manasik kesehatan itu artinya kami ingin memastikan jemaah-jemaah yang sudah ditetapkan akan berangkat di 2027 ini itu mereka sudah persiapan selama 1 tahun yang kami sebut manasik kesehatan," tutur Dahnil.
Ia menjelaskan persiapan tersebut mencakup pembiasaan olahraga hingga pengendalian penyakit penyerta karena sebagian besar aktivitas ibadah haji memerlukan kondisi fisik yang prima.
"Misalnya kebiasaan olahraga, jalan kaki, kemudian kalau sanggup lari-lari karena 95 persen kegiatan di tanah suci itu adalah kegiatan fisik," jelasnya.
"Kemudian, kalau mereka punya komorbid, kemudian nanti secara intens dimaintain. Misalnya darah tinggi, diabet, dan sebagainya itu secara intens di maintain oleh tim dokter di daerah masing-masing," kata Dahnil.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangNikmati Fitur Lengkap KARIN dengan KOMPAS.com PLUS
Dapatkan lebih banyak kuota, pahami berita lebih cepat, dan gali konteks mendalam dari artikel KOMPAS.com.