KOMPAS.com - Eks pemain Persija Jakarta dan PSIS Semarang, Emanuel De Porras, memiliki keyakinan tinggi bergabungnya Shin Tae-yong sebagai pelatih bakal memberi kejayaan bagi Macan Kemayoran.
Shin Tae-yong menjadi harapan baru bagi Persija Jakarta untuk kembali merasakan gelar juara yang terakhir kali didapat pada 2018 silam.
Dia dikontrak selama tiga tahun oleh manajemen Persija dan diyakini sebagai sosok yang tepat untuk menjadi nakhoda Macan Kemayoran.
Persija berambisi bisa merayakan juara liga tepat di usia 100 tahun klub yang jatuh pada 2028 mendatang.
Shin Tae-yong akan mulai bekerja pada Super League 2026-2027 mendatang. Keyakinan kepada sang pelatih asal Korea Selatan ditunjukkan oleh mantan pemain Persija, Emanuel De Porras.
Pria asal Argentina itu melihat Shin Tae-yong sebagai pelatih berkualitas dan memiliki rekam jejak yang mentereng untuk bisa membawa tim kebanggaan Ibu kota kembali juara.
"Saya pikir (Persija) punya pelatih yang bagus, yang mentalnya kuat. Saya pikir dia (Shin Tae-yong) bisa bantu Persija untuk juara tahun ini," kata De Porras eksklusif kepada KOMPAS.com.
Butuh Tambahan Pemain
Satu hal yang disoroti oleh pria 44 tahun, Macan Kemayoran juga butuh pemain yang kuat dan bisa mengaplikasikan strategi pelatih dengan baik di lapangan.
"Beberapa pemain harus diganti agar Persija bisa juara lagi. Harus pilih pemain yang bagus agar punya tim yang kuat secara fisik dan teknik," tutur De Porras.
"Terutama harus punya fisik yang kuat karena kompetisi di Indonesia banyak kontak fisik. Faktor cuaca juga berpengaruh. Jadi, harus punya pemain yang kuat," jelas dia.
Dengan kombinasi yang tepat, De Porras yakin Persija bisa kembali juara. Bahkan, tidak perlu menunggu dua tahun.
"Semoga bisa langsung juara tahun depan. Tepat di usia 500 tahun Kota Jakarta," ungkap De Porras.
Peningkatan Liga Indonesia
Lebih lanjut, De Porras juga membahas perbedaan Liga Indonesia ketika dia bermain dengan di masa sekarang.
Dia menyatakan kompetisi sepak bola nasional saat ini sudah jauh lebih meningkat kualitasnya, terlebih dengan aturan 11 pemain asing yang membuat pemain lokal juga harus meningkatkan kualitasnya agar tak kalah saing dengan pemain asing.
"Ya, saya masih mengikuti kompetisi di Indonesia. Tapi, saya juga kaget ketika melihat langsung kalau semua fasilitas sudah diganti, seperti lapangan, stadionnya juga. Sekarang stadionnya sudah cantik dan modern," kata De Porras.