Jakarta, Beritasatu.com – Pemerintah memperkuat langkah antisipasi menghadapi dampak fenomena El Nino yang memicu musim kemarau di berbagai wilayah Indonesia. Sejumlah strategi disiapkan untuk mencegah krisis air bersih, menjaga produksi pangan, hingga mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi curah hujan pada periode Juli hingga Desember 2026 berada pada kategori rendah hingga menengah, yakni berkisar 0–300 milimeter per bulan. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah daerah.
Presiden Prabowo Subianto telah memanggil sejumlah menteri terkait pada Selasa (28/7/2026) guna membahas langkah penanganan dampak El Nino.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengatakan Presiden meminta pemerintah memastikan musim kemarau tidak menimbulkan gangguan besar terhadap masyarakat maupun sektor strategis, seperti ketahanan pangan dan perekonomian nasional.
"Pemerintah ingin memastikan dampak El Nino dapat dimitigasi sehingga aktivitas masyarakat, sektor pertanian, dan perekonomian tetap berjalan dengan baik," ujar AHY.
Untuk menghadapi kondisi tersebut, pemerintah menyiapkan sejumlah jurus mitigasi darurat sekaligus penguatan ketahanan air dalam jangka panjang.
1. Bantuan Pompa Air untuk Pertanian
Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan 56.000 unit pompa air pada tahun anggaran 2026 sebagai upaya menjaga pasokan air irigasi di lahan pertanian yang terdampak kekeringan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan program pompanisasi menjadi strategi utama pemerintah dalam menjaga produktivitas pertanian selama musim kemarau.
"Program pompanisasi menjadi strategi pemerintah untuk memastikan lahan sawah tetap memperoleh pasokan air sehingga swasembada pangan dapat terus dijaga," kata Amran.
2. Distribusi Air Bersih
Pemerintah juga mengoordinasikan penyaluran air bersih ke wilayah yang mengalami kekeringan melalui armada mobil tangki milik pemerintah daerah.
Distribusi dilakukan di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) untuk memastikan kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau.
3. Operasi Modifikasi Cuaca
Selain langkah darurat, pemerintah melanjutkan operasi modifikasi cuaca (OMC) dengan teknologi penyemaian awan, termasuk memanfaatkan drone.
Operasi ini bertujuan meningkatkan cadangan air di waduk dan embung, sekaligus menjaga kelembapan lahan gambut guna menekan potensi kebakaran hutan dan lahan. Pelaksanaan OMC akan disesuaikan dengan perkembangan prakiraan cuaca dalam beberapa pekan hingga bulan mendatang.
4. Teknologi Desalinasi dan Penjernihan Air
Sebagai solusi jangka panjang, pemerintah juga menyiapkan pengembangan teknologi desalinasi air laut dan penjernihan air payau.
Teknologi tersebut diharapkan mampu memperkuat pasokan air bersih, terutama di wilayah pesisir dan kepulauan yang rentan mengalami kekurangan air saat musim kemarau.
Melalui kombinasi langkah darurat dan pembangunan infrastruktur sumber daya air, pemerintah berharap dampak El Nino dapat diminimalkan sehingga kebutuhan air masyarakat tetap terpenuhi, produksi pangan terjaga, dan risiko karhutla dapat ditekan.