JAKARTA, KOMPAS.com - Deretan pintu plastik di sebuah bangunan beton permukiman padat Jakarta tak henti-henti dibuka dan ditutup oleh warga.
Sebagian warga mendatangi bangunan beton yang biasa digunakan untuk mandi, cuci, kakus (MCK) umum itu bertelanjang dada, lengkap dengan handuk di bahu, dan gayung berisi sabun serta sikat gigi.
Namun, sebagian lagi ada yang datang dengan tangan kosong, karena hanya sekedar ingin membuang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB).
Di tengah perkembangan Jakarta menjadi kota global, MCK umum masih bertahan di tengah-tengah pemukiman padat ibu kota.
Sebab, keterbatasan lahan membuat banyak rumah-rumah di Jakarta berukuran sangat kecil, sehingga tak cukup untuk membangun kamar mandi di dalamnya.
Dulunya, warga yang tak memiliki kamar mandi mengandalkan MCK umum sehari-hari, mulai dari mandi, BAK, BAB, mencuci pakaian, hingga piring sekalipun.
MCK di Kampung Bandan
Salah satu kawasan yang masih terdapat MCK umum adalah di Kampung Bandan, Jakarta Utara.
Kurang lebih ada sekitar delapan bangunan MCK umum di sekitar kawasan tersebut dan salah satunya di RT 11, RW 05.
MCK di RT 11 sendiri terdapat tujuh pintu dengan masing-masing ukuran sekitar 1 x 1 meter.
"Dari tujuh kamar, tiganya cuma kamar mandi, dan empatnya bisa buat BAB," ucap penjaga MCK umum di RT 11, Encang (55), ketika dijumpai Kompas.com, Jumat (24/7/2026).
Pengamatan Kompas.com di lokasi, tiga kamar mandi terdapat bak air terbuat dari semen dengan ukuran sekitar 75 x 55 sentimeter.
Sedangkan kamar mandi yang juga diperuntukkan untuk BAK, ukuran baik airnya cenderung lebih kecil hanya 75 x 20 sentimeter.
Bak mandi itu selalu terisi penuh air yang dilengkapi dengan gayung plastik untuk mempermudah warga yang hendak mandi, BAK, dan BAB.
Selain itu, di depan area kamar mandi juga terdapat drum berwarna biru berukuran 200 liter untuk menyetok air.
Air di dalam drum itu bisa digunakan untuk warga yang mau mencuci pakaian atau piring. Namun, juga kerap digunakan sebagai cadangan apabila air PAM sedang mati.
Perlahan ditinggalkan
Encang mengatakan, pengguna MCK umum yang dijaganya perlahan berkurang.
Sebab sejak pemukiman padat itu kebakaran, banyak warga yang kembali membangun rumahnya dilengkapi dengan fasilitas kamar mandi dan WC di dalamnya.
"Pada bangun WC di dalam, walaupun enggak ada septictank-nya gitu ya. Kalau ini kan (MCK) ada septictank-nya pastinya," jelas dia.
Kendati begitu, MCK umum tersebut tetap bertahan karena masih ada warga yang membutuhkannya.