- PT Indosat Tbk menjadikan kecerdasan buatan sebagai fondasi transformasi bisnis, membukukan pendapatan Rp30,7 triliun pada semester pertama 2026.
- Indosat mempercepat pembangunan infrastruktur digital dan bisnis AI Cloud melalui kerja sama strategis serta penambahan spektrum frekuensi jaringan.
- Perusahaan menurunkan emisi karbon sebesar 50,89 persen dan berkolaborasi mengembangkan talenta digital serta wirausaha berbasis AI hingga 2029.
Suara.com - Memasuki era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), operator kini berlomba membangun ekosistem teknologi yang mampu menghadirkan pengalaman digital lebih cerdas sekaligus menciptakan sumber pertumbuhan bisnis baru.
Pergeseran inilah yang mulai terlihat dalam strategi PT Indosat Tbk (Indosat Ooredoo Hutchison/IOH), yang menjadikan AI sebagai fondasi transformasi perusahaan.
Strategi tersebut mulai tercermin pada kinerja semester pertama 2026. Hingga periode yang berakhir 30 Juni 2026, Indosat membukukan pendapatan sebesar Rp30,7 triliun, naik 13,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/YoY).
Pertumbuhan ini diikuti peningkatan EBITDA sebesar 14 persen menjadi Rp14,6 triliun, dengan margin EBITDA mencapai 47,6 persen.
Di saat yang sama, laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk yang dinormalisasi melonjak 49,2 persen YoY menjadi Rp3,2 triliun, didukung pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan, disiplin pengelolaan biaya, serta peningkatan efisiensi operasional.
Indosat menilai pencapaian tersebut tidak hanya berasal dari bisnis konektivitas, tetapi juga dari semakin terintegrasinya teknologi AI dalam pengalaman digital pelanggan.
Melalui berbagai layanan berbasis AI seperti fitur Anti-Spam, Anti-Scam, Sahabat-AI, Gemini AI, hingga Adobe Express, perusahaan menghadirkan layanan yang dirancang untuk meningkatkan produktivitas, kreativitas, sekaligus keamanan pengguna dalam aktivitas digital sehari-hari.
Transformasi tersebut ikut mendorong pertumbuhan penggunaan layanan data. Trafik data meningkat 19,9 persen YoY, sementara Average Revenue Per User (ARPU) naik 17,3 persen menjadi Rp46 ribu. Basis pelanggan seluler juga tetap terjaga kuat di angka 93,4 juta pelanggan.
President Director and Chief Executive Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Vikram Sinha, mengatakan strategi AI North Star menjadi arah utama perusahaan dalam mentransformasi bisnis dari sekadar penyedia layanan telekomunikasi menjadi perusahaan teknologi berbasis AI.
"Pertumbuhan double digit yang kami capai menjadi bukti kuat bahwa strategi kami berjalan baik sekaligus mencerminkan momentum positif dari perjalanan transformasi kami," ujar Vikram Sinha dalam Media Update di Jakarta, Selasa (28/7/2026).
Menurut Vikram, capaian tersebut memperkuat optimisme perusahaan untuk memasuki fase transformasi berikutnya melalui penguatan kapabilitas AI yang diharapkan menjadi mesin pertumbuhan baru sekaligus mempercepat pengembangan ekosistem AI nasional.
AI Cloud Mulai Menjadi Mesin Pertumbuhan Baru
Di balik pertumbuhan keuangan tersebut, Indosat juga mempercepat pembangunan infrastruktur teknologi yang menjadi fondasi layanan AI.
Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah pembentukan PT Infra Fiber Teknologi (IFT) bersama Arsari Group.
Melalui pengalihan pengelolaan lebih dari 86.000 kilometer jaringan serat optik nasional, perusahaan memperoleh sekitar Rp11,7 triliun dan mulai menerapkan model bisnis asset-light yang memberikan ruang lebih besar untuk investasi pada teknologi bernilai tinggi.
- PT Indosat Tbk menjadikan kecerdasan buatan sebagai fondasi transformasi bisnis, membukukan pendapatan Rp30,7 triliun pada semester pertama 2026.
- Indosat mempercepat pembangunan infrastruktur digital dan bisnis AI Cloud melalui kerja sama strategis serta penambahan spektrum frekuensi jaringan.
- Perusahaan menurunkan emisi karbon sebesar 50,89 persen dan berkolaborasi mengembangkan talenta digital serta wirausaha berbasis AI hingga 2029.
Fleksibilitas tersebut kemudian diarahkan untuk memperkuat bisnis AI Cloud, seiring meningkatnya kebutuhan industri terhadap infrastruktur komputasi AI di Indonesia.
Sepanjang semester pertama 2026, bisnis AI Cloud membukukan pendapatan sebesar 33 juta dolar AS, melampaui total pendapatan sepanjang tahun 2025 yang tercatat 28 juta dolar AS.
Kinerja tersebut menunjukkan meningkatnya permintaan terhadap infrastruktur AI domestik dan menempatkan AI Cloud sebagai salah satu sumber pertumbuhan baru bagi perusahaan.
Tambahan Spektrum Perkuat Kapasitas Jaringan AI
Transformasi AI juga diimbangi dengan penguatan infrastruktur jaringan. Indosat baru saja memperoleh tambahan 80 MHz spektrum pada pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz, yang diharapkan meningkatkan kapasitas jaringan sekaligus kualitas layanan di tengah meningkatnya kebutuhan aplikasi berbasis AI.
Perseroan menilai, tambahan spektrum tersebut akan memperkuat pengalaman digital pelanggan yang semakin bergantung pada komputasi berbasis AI, sekaligus membuka peluang pengembangan layanan Indosat 5G, termasuk Fixed Wireless Access (FWA).
AI Tidak Hanya Mengejar Pertumbuhan, tetapi Juga Keberlanjutan
Selain memperluas bisnis AI, Indosat juga menempatkan teknologi sebagai instrumen untuk meningkatkan efisiensi operasional dan keberlanjutan.
Optimalisasi jaringan berbasis AI serta pengelolaan energi secara cerdas berhasil menurunkan intensitas emisi karbon perusahaan sebesar 50,89 persen.
Komitmen tersebut turut mendapat pengakuan melalui masuknya Indosat ke dalam tiga indeks ESG KEHATI, yakni SRI-KEHATI, ESG Sector Leaders, dan ESG Quality 45 untuk periode Juni–November 2026.
Di sisi pengembangan talenta, Indosat juga memperluas kolaborasi bersama Kementerian Ketenagakerjaan RI dan Wadhwani Foundation untuk mendukung pengembangan 1 juta talenta digital serta 100.000 wirausaha berbasis AI hingga 2029.
Langkah tersebut memperlihatkan bahwa strategi AI Indosat tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kinerja bisnis, tetapi juga membangun fondasi ekosistem AI Indonesia melalui investasi pada infrastruktur digital, pengembangan sumber daya manusia, serta inovasi teknologi yang berkelanjutan.