JAKARTA, KOMPAS.com - Mengelola rutinitas anak yang memiliki tingkat kecerdasan tinggi rupanya menuntut komitmen ekstra dari pihak keluarga.
Anak berbakat umumnya mempunyai rasa ingin tahu yang sangat besar, sehingga mereka cenderung melibatkan diri ke dalam segudang aktivitas yang menguras banyak tenaga setiap harinya. Menghadapi dorongan belajar yang besar tersebut, ayah dan ibu tidak boleh asal mengekang.
Keingintahuan sang buah hati justru harus difasilitasi melalui perpaduan antara keluwesan jadwal bermain, dengan ketegasan dalam menegakkan aturan istirahat di rumah.
"Kita sebagai orangtua memang dari awal ada komitmen ya untuk memperkenalkan Ashton sejak sedini mungkin ke berbagai macam bidang," ungkap Budi Fung, ayah dari anak jenius dengan IQ 145 bernama Ashton Alexander Fung, di acara edukatif imersif "S-26 Exceptional Journey: Journey Inside the Brain", Senayan City Mall, Jakarta, Jumat (24/7/2026).
Ashton adalah anak yang berhasil mengharumkan nama Indonesia dengan meraih medali emas di Olimpiade Matematika tingkat International saat berusia 6 tahun.
Di usia 3 tahun, ia juga sudah memahami konsep perkalian dan di umur 4 tahun sudah bisa mengerti konsep kuadrat dan akar.
Rahasia di balik kecerdasan Ashton Alexander Fung
Menemukan bakat lewat pengenalan beragam bidang
Untuk mencetak generasi masa depan yang tangguh, Budi dan istrinya, Marlene, sepakat untuk tidak memberikan sekat pada minat sang anak sejak usianya masih balita.
Mereka terus memberikan jalan bagi buah hatinya untuk merambah banyak ranah tanpa menuntut hasil instan.
"Jadi kita tidak cuma dibatasin, 'Ya kamu cuma coba ini, coba satu ini, satu itu,' enggak. Kita coba berusaha untuk memperkenalkan berbagai macam bidang," kata Budi.
Dari kebebasan mencoba tersebut, keluarga ini kini mendapati anaknya aktif mendalami sains, matematika, olahraga golf, berkuda, bermain piano, hingga mengembangkan agen edukasi kecerdasan buatan.
Penemuan ragam bakat ini berangkat dari eksperimen yang tidak terduga, karena mulanya keluarga menduga sang anak hanya mahir pada bidang numerik.
"Mungkin pada awalnya kita cuma melihat kemampuan Ashton itu lebih di bidang matematika gitu kan. Cuma kita terus mengeksplor dia untuk menggali lebih dalam lagi," Budi berujar.
Menyediakan sarana eksperimen yang luas membuahkan pemetaan potensi yang akurat dan minim tekanan.
"Dan akhirnya kita juga bisa menemukan minat si Ashton. Itu yang terpenting sih buat kita sebagai orangtua," imbuhnya.
Keluwesan dalam mengatur transisi aktivitas
Segudang rutinitas tersebut sekilas tampak sangat melelahkan bagi anak-anak seusianya.