KEBUMEN, KOMPAS.com – Pembangunan Jalan Siti Sudar sepanjang sekitar 2,5 kilometer beserta dua jembatan di Dukuh Grigak, Desa Plumbon, Kecamatan Karangsambung, menjadi bukti nyata kepedulian luar biasa dari masyarakat dalam mendukung pembangunan infrastruktur desa.
Jalan yang dibangun menggunakan dana pribadi keluarga besar H Sudar, terutama dari hasil swadaya Hj Siti Srimulati tersebut, kini telah berhasil membuka akses urat nadi perekonomian menuju kawasan pertanian yang selama bertahun-tahun sulit dijangkau kendaraan.
Meski demikian, Hj Siti Srimulati mengakui bahwa pembangunan fisik yang dilakukan oleh keluarganya secara mandiri tersebut belumlah sepenuhnya sempurna.
Setelah sukses membelah perbukitan dan membuka akses jalan dasar, ia menaruh harapan besar agar pemerintah daerah dapat melanjutkan pembangunan dengan melakukan pengaspalan hotmix agar manfaatnya semakin dirasakan masif oleh masyarakat.
Harapan tersebut disampaikan langsung kepada Kompas.com saat ditemui di lokasi pembangunan jalan pada Senin (6/7/2026).
Hj Siti Srimulati, atau yang akrab dipanggil warga sekitar dengan nama Hj Siti Sudar, juga menceritakan lika-liku proses pembangunan Jalan Siti Sudar yang beberapa waktu lalu diresmikan oleh Bupati Kebumen, Lilis Nuryani.
Menurut Siti Srimulati, pembangunan jalan tersebut murni menggunakan dana pribadi tanpa sepeser pun bantuan dari kas negara atau pihak luar.
Demi mewujudkan mimpi warga memiliki jalan yang layak, ia bahkan rela menguras tabungan masa tua hingga menjual perhiasan emas simpanannya.
"Jadi itu murni pribadi saya. Bukan bapak, bukan siapa, bukan siapa. Pribadi saya saya ingin hidup saya investasi akhirat. Jadi saya berani mengeluarkan dan berani ikhlas memakai apa yang saya pakai (perhiasan emas) saya jual untuk itu," kata Hj Siti Srimulati.
Namun, saat hendak ditanya mengenai rincian total nominal biaya yang telah dihabiskan untuk proyek besar tersebut, Hj Siti langsung menutup rapat-rapat pertanyaan itu dengan senyuman.
"Kalau ditanya berapa, terima kasih saya tidak akan menjawabnya. Karena itu lillahi ta'ala, ibaratnya kalau sedekah itu keluar tangan kanan, tangan kiri tidak tau," ujarnya ramah.
Ia menceritakan, keinginan nekatnya membangun jalan ini berawal dari rasa prihatin yang mendalam saat melihat potensi lahan pertanian dan kawasan hutan produktif di desanya yang terisolasi.
Selama puluhan tahun, potensi ekonomi itu tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal karena tidak adanya akses transportasi yang memadai.
Sebelum jalan ini ada, para petani lokal harus menempuh perjalanan yang sangat panjang dengan berjalan kaki melintasi medan terjal dan licin hanya untuk mencapai kebun atau saat memikul hasil panen.
Kini, setelah jalur baru terbuka lebar, akses mobilitas menjadi jauh lebih mudah dan kendaraan bermotor sudah bisa langsung masuk ke kawasan pertanian.