Bintang muda Paris Saint-Germain, Ibrahim Mbaye, telah membuat beberapa klub raksasa Liga Premier waspada setelah mengisyaratkan keinginannya untuk hengkang dari Parc des Princes pada musim panas ini. Pemain sayap berusia 18 tahun tersebut, yang mencatatkan terobosan bersejarah bersama Senegal pada Piala Dunia 2026, dilaporkan siap mencari awal baru demi mendapatkan kesempatan bermain reguler di tim utama.
Penampilan gemilang di Piala Dunia memicu minat klub-klub Liga Premier
Pemain sayap muda itu langsung memberikan dampak besar bagi Senegal di Piala Dunia, saat masuk sebagai pemain pengganti pada laga pembuka melawan Prancis dan mencetak gol menakjubkan setelah melewati Theo Hernandez, sekaligus mencatatkan namanya dalam buku sejarah.
Pada usia 18 tahun dan 143 hari, Mbaye menjadi pencetak gol termuda dalam sejarah tim nasional Senegal. Yang lebih penting lagi, ia kini memegang rekor sebagai pemain Afrika termuda yang pernah mencetak gol di turnamen Piala Dunia.
Aston Villa dan Tottenham memimpin perburuan
Perkembangan ini secara efektif telah menjadi sinyal awal bagi beberapa klub Inggris, demikian dilaporkan Foot Mercato. Tottenham diketahui telah lama mengagumi kecepatan eksplosif dan gaya bermain langsung sang pemain sayap tersebut, serta menganggapnya sangat cocok dengan tuntutan fisik Liga Premier. Namun, Aston Villa-lah yang saat ini menunjukkan minat paling konkret untuk mendapatkan tanda tangannya.
Tim asuhan Unai Emery sangat ingin memperkuat lini serang mereka dengan talenta-talenta muda yang menjanjikan, dan Mbaye sangat sesuai dengan profil tersebut. Seiring berjalannya bursa transfer musim panas, PSG mungkin akan berada dalam posisi yang sulit saat mereka berusaha meyakinkan salah satu prospek terbaik mereka bahwa masa depannya tetap di Paris di tengah tekanan yang semakin meningkat dari liga papan atas Inggris.
Kekecewaan terhadap jalur karier di PSG
Situasi di PSG tetap rumit bagi pemain lulusan akademi ini, yang lebih dikenal sebagai 'Titi' di kalangan klub. Meskipun saat ini ia terikat kontrak yang berlaku hingga Juni 2028, Mbaye merasa was-was menghadapi persaingan ketat untuk memperebutkan tempat di skuad asuhan Luis Enrique. Dengan sang juara Ligue 1 yang terus-menerus merekrut talenta-talenta penyerang ternama, jalan menuju tim utama tampaknya semakin tertutup.
Laporan dari footmercato menunjukkan bahwa meskipun lingkaran terdekatnya lebih memilih agar ia tetap di Paris untuk melanjutkan perkembangannya, sang pemain sendiri cenderung ingin hengkang. Ia tidak lagi bersedia menunggu peluang yang mungkin takkan pernah datang, terutama setelah membuktikan kemampuannya melawan lawan-lawan elit selama tur musim panas di Amerika Utara.
-
Getty Images Sport Perjuangan untuk mendapatkan pengakuan di tingkat internasional
Meskipun mencatatkan prestasi yang memecahkan rekor, perjalanan Mbaye menuju starting XI tidaklah mulus. Secara mengejutkan, ia ditinggalkan di bangku cadangan pada pertandingan grup kedua melawan Norwegia—kekalahan 3-2 yang memicu kemarahan di kalangan pendukung Senegal. Ketika akhirnya ia masuk ke lapangan pada menit ke-54, dampaknya tak terbantahkan: ia mencatatkan tingkat keberhasilan dribel 100% dan memenangkan kelima duel yang dilakukannya.
Desakan publik agar ia dimasukkan ke dalam starting XI akhirnya membuahkan hasil dengan penampilan pertamanya sebagai starter pada pertandingan terakhir fase grup melawan Irak, di mana ia bermain selama 57 menit. Pengalaman di panggung dunia ini telah mengubah pandangan sang remaja, karena kini ia merasa siap untuk bersaing di level tertinggi setiap pekan, alih-alih hanya puas dengan peran sebagai pemain cadangan di ibu kota Prancis.
SUKA CERITA INI?
Tambahkan GOAL.com sebagai sumber pilihan di Google untuk melihat lebih banyak liputan kami