AS dan Amerika Latin Desak Transisi Pemerintahan Damai di Kolombia

AS dan Amerika Latin Desak Transisi Pemerintahan Damai di Kolombia

Ilustrasi bendera Kolombia. (Santiago Quintero, CC BY 3.0 , via Wikimedia Commons)
  • AS dan 13 negara Amerika Latin mendesak transisi pemerintahan Kolombia berlangsung damai setelah Presiden Gustavo Petro menolak mengakui kemenangan Abelardo de la Espriella.
  • Aliansi Shield of Americas menilai sikap Petro merusak legitimasi hasil pilpres dan memperingatkan agar proses transisi tidak mengganggu stabilitas demokrasi di Kolombia.
  • Petro berjanji kepada Presiden Brasil, Lula da Silva, untuk menjaga demokrasi serta memastikan proses transisi kekuasaan berjalan damai meski tensi politik masih tinggi.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Amerika Serikat (AS) dan 13 negara Amerika Latin anggota Shield of Americas mendesak transisi pemerintahan Kolombia secara damai. Pernyataan ini menyusul tingginya tensi usai Presiden Kolombia, Gustavo Petro tidak mengakui kemenangan Presiden terpilih Kolombia, Abelardo de la Espriella. 

Sebelumnya, Petro mengaku sudah mendapatkan bukti yang cukup bahwa ada kecurangan dalam hasil pemilihan presiden (pilpres) putaran kedua. Ia menuding ada intervensi perusahaan Israel dalam hasil suara diaspora di luar negeri. 

1. Shield of Americas sebut Petro berusaha merusak demokrasi di Kolombia

Presiden Kolombia, Gustavo Petro.
Presiden Kolombia, Gustavo Petro. (Fotografía oficial de la Presidencia de Colombia, Public domain, via Wikimedia Commons)

Negara-negara anggota Sheild of Americas mengecam segala aksi dan keputusan yang berlawanan dengan hasil pilpres. Menurutnya, pernyataan Petro menunjukkan upaya perusakan sistem pemilihan umum di Kolombia. 

“Dia berusaha merusak legitimasi dari mandat yang dipilih oleh rakyat, mendiskreditkan otoritas elektoral kompeten tanpa dasar atau merusak proses transisi pemerintahan baru,” ungkapnya, dikutip dari Colombia One

Sheild of Americas dikenal sebagai aliansi pemerintahan sayap kanan di Benua Amerika yang dibentuk oleh AS. Aliansi tersebut menyatakan sikap setelah De la Espriella menuding Petro berupaya mengadakan kudeta di Kolombia. 

2. Petro larang pelantikan De la Espriella di barak militer

ilustrasi bendera Kolombia
ilustrasi bendera Kolombia (unsplash.com/gustavo0351)

Pada saat yang sama, Petro melarang pelantikan De la Espriella dihelat di barak militer. Menurutnya, tidak ada fasilitas militer Kolombia yang digunakan untuk acara pelantikan dan sumpah jabatan kepala negara.

“Transisi pemerintahan harus mengikuti hukum dan konstitusi, yang mana presiden harus bersumpah sebelum sesi sidang paripurna Parlemen Kolombia. Barak militer secara hukum digunakan untuk pertahanan rakyat,” terangnya, dilansir dari Telesur, Selasa (14/7/2026). 

Selama ini, acara pelantikan presiden Kolombia digelar sebelum sidang parlemen. Umumnya acara tersebut dilakukan di Elliptic Hall od the Capitol dan belakangan ini digelar di Lapangan Bolivar, Bogota. 

3. Petro janji kepada Lula proses transisi pemerintahan damai

Presiden Brasil, Lula da Silva.
Presiden Brasil, Lula da Silva. (REPÚBLICA DE COLOMBIA, Public domain, via Wikimedia Commons)

Pekan lalu, Petro berjanji kepada Presiden Brasil, Lula da Silva untuk mempertahankan demokrasi dan mengadakan transisi pemerintahan damai di Kolombia. Selama ini, Petro dikenal sebagai sekutu terdekat Lula karena memiliki pandangan politik yang sama. 

Dilansir Valor International, Lula melihat bahwa kemenangan De la Espriella di Kolombia semakin meningkatkan pemerintahan sayap kanan di Amerika Latin yang beraliansi dengan AS. Sejumlah pihak melihat bahwa terpilihnya De la Espriella dapat membuat hubungan Brasil dan Kolombia merenggang. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.