Amnesty Internasional: 2 Korban Main Hakim Sendiri di Bali dan Morowali Adalah Tulang Punggung Keluarga

Amnesty Internasional: 2 Korban Main Hakim Sendiri di Bali dan Morowali Adalah Tulang Punggung Keluarga

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid mengatakan, dua orang korban main hakim sendiri di Tabanan, Bali, dan di Morowali, Sulawesi Tengah adalah tulang punggung keluarga.

"Negara pun perlu menjamin masa depan keluarga para korban mengingat keduanya dikenal sebagai tulang punggung keluarga masing-masing," katanya dalam keterangannya, Selasa (28/7/2026).

Usman mengatakan, selain memberikan jaminan, aparat penegak hukum juga harus bersikap tegas dan tidak memberikan ruang toleransi terhadap pelaku aksi vigilantisme tersebut.

Para pelaku pengeroyokan baik di Tabanan maupun di Morowali telah menghilangkan nyawa dan harus diproses secara hukum.

"Tidak kalah penting, negara harus menggencarkan edukasi agar masyarakat menahan diri dari tindakan kekerasan dan selalu menyerahkan terduga pelaku kejahatan kepada pihak berwajib," ucapnya.

"Kejahatan harus dilawan dengan instrumen hukum, bukan dengan vigilantisme, demi mewujudkan keadilan dan kemanusiaan di tengah masyarakat," pungkas Usman.

Aksi main hakim sendiri di sejumlah daerah

Aksi main hakim sendiri alias vigilantisme di tengah masyarakat dalam menghadapi terduga pelaku kejahatan berakhir dengan kematian, seperti yang terjadi di Kabupaten Tabanan, Bali, dan Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.

Di Tabanan, seorang pria berinisial KD tewas setelah menjadi sasaran amuk massa saat berupaya menyelamatkan diri karena diduga mencuri ayam pada Jumat dini hari 24 Juli lalu.

KD mengalami luka berat dan meninggal di lokasi pengeroyokan sebelum sempat diserahkan kepada polisi.

Polisi telah memeriksa 18 saksi dan menetapkan lima orang tersangka dalam kasus pengeroyokan itu.

KD, yang diketahui sebagai buruh harian, meninggalkan seorang istri dan dua orang anak yang masih dalam usia sekolah.

Sehari kemudian di Morowali, Sabtu malam 25 Juli, seorang pria berinisial WS meregang nyawa akibat dihakimi massa usai dicurigai hendak mencuri sepeda motor di suatu pusat perbelanjaan.

Setelah dikejar banyak warga, WS sempat menyelamatkan diri ke sebuah minimarket. Namun warga menarik WS dan mengeroyoknya di luar hingga terkapar.

WS adalah warga asal Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, yang pergi merantau ke Morowali untuk mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan istri dan adik-adiknya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang