KOMPAS.com - Langkah Aljazair di panggung Piala Dunia 2026 terpaksa berakhir setelah menelan kekalahan 0-2 dari Swiss pada babak 32 besar.
Menyusul kegagalan tersebut, sang kapten, Riyad Mahrez, secara mengejutkan mengumumkan pengunduran dirinya dari panggung sepak bola internasional.
Keputusan besar untuk menyudahi karier tersebut disampaikan oleh Riyad Mahrez sesaat setelah laga berakhir di Vancouver.
Dengan ini, ia resmi menyudahi 12 tahun pengabdiannya bersama Timnas Aljazair dengan catatan berupa 119 penampilan dan torehan 40 gol sepanjang karier internasionalnya.
Pemain berusia 35 tahun itu tidak bisa menutupi kekecewaannya atas hasil minor yang didapat timnya akibat kelengahan di barisan pertahanan.
"Tujuannya adalah untuk melaju, dan saya pikir itu adalah pertandingan yang bisa kami menangkan," kata Mahrez dikutip dari BBC Sport, Jumat (3/7/2026).
"Kami kebobolan dua gol karena kesalahan, dan di level ini, kami harus membayar mahal untuk itu."
Ketika ditanya lebih lanjut apakah kekalahan pahit di Kanada ini akan menjadi panggung terakhirnya di turnamen empat tahunan tersebut, ia menegaskan telah memantapkan hati untuk gantung sepatu dari skuad kebangsaan.
"Ini penampilan terakhir saya bahkan bersama tim nasional. Ini adalah pertandingan terakhir saya."
Warisan Emas sang Kapten
Pensiunnya mantan bintang Leicester City dan Manchester City ini menandai berakhirnya era salah satu pilar terbaik yang pernah dimiliki negaranya.
Dalam buku sejarah sepak bola nasionalnya, ia menempati posisi kedua sebagai pemain dengan caps terbanyak, tepat di belakang Aissa Mandi yang membukukan 123 penampilan.
Selain itu, ia juga bertengger di urutan kedua daftar pencetak gol terbanyak sepanjang masa di bawah Islam Slimani yang mengoleksi 49 gol.
Prestasi monumental yang paling dikenang publik tentu saja terjadi pada tahun 2019.
Kala itu, ia sukses memimpin negaranya merengkuh trofi Piala Afrika berkat gol tendangan bebas spektakulernya di menit-menit akhir babak semifinal melawan Nigeria, sebelum akhirnya menumbangkan Senegal di partai puncak untuk mengakhiri dahaga gelar kontinental sejak 1990.
Panggung Penutup yang Gemilang
Meski langkah timnas harus terhenti di babak 32 besar, kompetisi musim panas ini tetap menjadi salah satu penampilan individu terbaiknya di putaran final turnamen jagat raya.
Ia menjadi motor serangan utama dengan terlibat dalam tiga gol dari empat laga, yakni menyumbang dua gol saat bersua Austria dan satu assist kala menghadapi Yordania.
Catatan tersebut menjadikannya sebagai pemain dengan kontribusi gol terbanyak dalam satu edisi turnamen bagi negaranya.
Tidak hanya itu, ia juga menorehkan rekor sebagai pesepak bola Afrika tertua kedua yang tampil sebagai starter di fase gugur turnamen ini, hanya terpaut dari penggawa Senegal, Idrissa Gueye.
Perjalanan panjang yang dirintis oleh pemain kelahiran Prancis ini dimulai sejak memilih sumpah setia kepada negara leluhurnya pada 2013, hingga berhasil menembus babak 16 besar pada debutnya di edisi 2014 lalu.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangUnduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app