Aksi Swadaya Perbaiki Infrastruktur Rusak Kian Marak di Bener Meriah Aceh, Bukti Putus Asa pada Pemerintah?

Aksi Swadaya Perbaiki Infrastruktur Rusak Kian Marak di Bener Meriah Aceh, Bukti Putus Asa pada Pemerintah?

BENER MERIAH, KOMPAS.com - Pasca bencana hidrometeorologi dahsyat yang menerjang wilayah Aceh pada November tahun, berbagai fasilitas publik di wilayah tengah Aceh mengalami kerusakan berat.

Hal tersebut turut menghambat aktifitas warga yang membutuhkan akses untuk menggerakkan roda perekonomian warga baik yang terdampak langsung maupun tidak terdampak langsung oleh bencana.

Di Bener meriah, bencana yang terjadi pada Rabu (26/11/2025) merusak berbagai fasilitas umum dan infrastruktur.

Juru Bicara Pos Komando Penanganan Bencana Aceh, Murthalamuddin, menyebut sebanyak 166 jembatan rusak serta 81 ruas jalan juga terdampak akibat 61 titik longsor dan 27 lokasi banjir bandang.

Namun seiring berjalannya waktu, Pemerintah dinilai lamban memperbaiki akses jalan maupun jembatan yang sangat vital baik bagi aktifitas ekonomi maupun sosial warga setempat.

Hal tersebut kemudian memicu sejumlah kelompok Masyarakat untuk turun memperbaiki jalan dan jembatan secara swadaya, gerakan tersebut terjadi di beberapa wilayah Kabupaten Bener Meriah. Terbaru, perbaikan Jembatan dan Jalan Enang-Enang Kabupaten Bener Meriah lewat donasi masyarakat menjadi viral di jagat maya yang memicu beragam reaksi warga.

Warga Gotong Royong Perbaiki Jalan Eks KKA

Sejumlah warga bergotong royong memperbaiki jalan eks KKA yang menghubungkan Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Utara.

Perbaikan secara swadaya dilakukan warga di jalan area Weh Pase, Kampung Seni Antara, Kecamatan Permata yang mengalami kerusakan sangat parah dan mengancam nyawa pengendara.

Perbaikan tersebut menggunakan dana hasil patungan. Sebelumnya, banjir bandang sempat merusak jalan dan jembatan penghubung satu-satunya di area tersebut. Donasi masyarakat berupa uang tunai, semen dan pasir.

Medan dan tanjakan Panjang disepanjang jalan menuju jalur alternatif dan jembatan darurat membuat kendaraan sulit melintas.

“Sudah banyak kecelakaan disini akibat jalan rusak, jangan tunggu dulu ada korban jiwa baru ada perbaikan, kalau tunggu pemerintah gawat ya,” keluh Darmika saat bertemu Kompas.com, Februari lalu.

Wacana Aksi Swadaya Perbaiki Jembatan di Kecamatan Mesidah

Di Kecamatan Mesidah, Masyarakat harus melewati jembatan bambu yang mulai lapuk, sebelumnya untuk menghindari terisolasi dari wilayah luar, masyarakat membuat jembatan darurat berbahan bambu.

Ramainya pengendara yang melintasi jembatan tersebut membuat kontruksi bangunan rusak. Beban yang berat membuat paku penahan jembatan lepas yang menyebabkan papan pijakan terlepas dan bergeser.

Jembatan tersebut merupakan infrstruktur penting bagi 15 desa di Kecamatan Mesidah, masyarakat mengandalkan jembatan darurat sebagai penunjang hidup sehari-hari. Selain memenuhi kebutuhan pokok, setiap hari jembatan dilintasi ratusan petani untuk mengangkut hasil panen.

Mengantisipasi wacana swadaya perbaikan jembatan, awal Maret Direktur Peringatan Dini Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Republik Indonesia, Berton Suar Pandjaitan, turun langsung meninjau ke lokasi, pada kesempatan itu, pihaknya berjanji akan melakukan Pembangunan jembatan darurat setelah Idul Fitri.