JAKARTA, KOMPAS.com - Gang-gang sempit perkampungan padat penduduk di Sunter Agung, Jakarta Utara, menjadi salah satu rute yang dilalui Dzulfikri saat bertugas sebagai petugas lapangan Sensus Ekonomi 2026 pada Jumat (26/6/2026).
Mengenakan rompi bertuliskan "Petugas Sensus Ekonomi 2026", mahasiswa tingkat akhir Politeknik Statistika STIS itu berkeliling dari rumah ke rumah untuk mendata warga.
Pria yang akrab dipanggil Dzul itu didampingi anggota Dasa Wisma setempat menyusuri permukiman. Sesekali ia berhenti di depan rumah warga untuk melihat apakah pemilik rumah ada untuk didata.
Salah satu lokasi yang didatangi adalah rumah yang difungsikan sebagai rumah kos.
Di tempat itu, Dzul mengajukan sejumlah pertanyaan kepada penghuni satu per satu sambil memasukkan setiap jawaban ke aplikasi pendataan di telepon genggam.
Pertanyaan yang diajukan mencakup kepemilikan usaha, sumber modal, pencatatan pendapatan, kondisi kesehatan, pengeluaran untuk makan, biaya tempat tinggal, tagihan listrik, hingga total pengeluaran dalam setahun.
Suasana pendataan berlangsung santai. Beberapa kali terdengar gelak tawa saat Dzul berbincang dengan warga bernama Ika, penjual nasi uduk.
"Kalau untung atau rugi tiap harinya itu dicatat enggak Bu?" tanya Dzul.
"Engga mas, masuk langsung dipakai belanja. Kalau ini namanya ekonomi berputar aja," jawab Ika sambil tertawa.
Bagi Dzul, rutinitas berkeliling dari rumah ke rumah merupakan bagian dari tugasnya sebagai petugas lapangan Sensus Ekonomi 2026.
Mahasiswa asal Sulawesi Selatan itu bertanggung jawab mendata ratusan rumah di wilayah Sunter Agung, Tanjung Priok, Jakarta Utara, dari 15 Juni hingga 15 Agustus 2026.
"Kalau saya dapatnya 620 lebih," kata dia kepada Kompas.com, Jumat.
Meski sebagian besar warga menerima kedatangannya dengan baik, Zulfikri mengaku tetap menemui tantangan di lapangan.
"Jadi ada yang sudut pandangnya memang agak terlalu sinis terhadap petugas sini, ada memang kaget dengan tiba-tiba ada petugas sini. Ada juga yang kayak menyambut dengan sangat senang gitu. Ada keinginan untuk didata," ungkap dia.
Dzul mengaku bahwa dirinya tidak serta-merta meminta data saat mendatangi seorang warga.
Nikmati Fitur Lengkap KARIN dengan KOMPAS.com PLUS
Dapatkan lebih banyak kuota, pahami berita lebih cepat, dan gali konteks mendalam dari artikel KOMPAS.com.