Ada Barcode Lapor Anonim, Sekolah Bolehkan Siswa Laporkan Kekerasan hingga Peredaran Narkoba

Ada Barcode Lapor Anonim, Sekolah Bolehkan Siswa Laporkan Kekerasan hingga Peredaran Narkoba

JAKARTA, KOMPAS.com - SMA Negeri 25 Jakarta di Gambir, Jakarta Pusat menyambut positif program Pelajar Jaga Jakarta lewat laporan barcode anonim yang ditempelkan di sekolah.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 25 Jakarta, Indar Cahyanto, menegaskan bahwa pihaknya sama sekali tidak mempermasalahkan jika ada murid yang menggunakan barcode tersebut untuk melapor langsung kasus kekerasan hingga narkoba ke polisi secara rahasia.

"Ya enggak apa-apa sih, karena kan sama kayak CRM (Cepat Respon Masyarakat) itu. Kita enggak tahu siapa yang melaporkan kan. Enggak masalah bagi kami," kata Indar saat ditemui Kompas.com di sekolah, Rabu.

Menurut Indar, kebebasan melapor tersebut justru menjadi sarana bagi siswa untuk melatih rasa tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar, tanpa harus takut identitasnya terbongkar.

"Yang penting belajar bertanggung jawab. Ketika dia mau melaporkan ya silakan, karena itu hak dia sebagai warga negara, apalagi kan tidak ada identitas ya," ujar Indar.

Meski demikian, pihak sekolah tetap mengedepankan langkah mendorong siswa untuk berani bercerita terlebih dahulu kepada guru jika ada masalah atau ancaman kriminalitas.

"Sering sih (mendorong siswa melapor). Tapi sebenarnya mengarahkannya lebih baik ke sekolah dulu, baru nanti sekolah yang meneruskan. Artinya preventif kami itu khusus untuk kalangan kami, ke anak kami dulu, baru nanti kami tindak lanjuti," tuturnya.

Di samping itu, untuk mencegah masuknya barang haram ke lingkungan pendidikan, SMAN 25 Jakarta juga disebut rutin menggandeng Badan Narkotika Nasional (BNN).

"Rutin sosialisasi dan setahun sekali tes urine. Alhamdulillah sih kita bebas (dari narkoba) dan belum pernah ada kasus," ucap Indar.

Polisi pasang barcode anonim

Kasat Reserse Narkoba Polres Metro Jakarta Pusat, AKBP Wisnu S. Kuncoro menyebut tren peredaran narkotika di Jakarta Pusat mulai beralih melalui ruang digital seperti media sosial dan menyasar kalangan anak-anak.

Sebagai salah satu langkah antisipasi, polisi pun memasang sebuah stiker "Pelajar Jaga Jakarta" berisi barcode pengaduan anonim di sejumlah sekolah.

"Tujuannya kita mendatangi sekolah-sekolah dengan nama program yaitu Pelajar Jaga Jakarta. Kenapa? Karena memang kita melihat peredaran sekarang narkotika banyak beredar di lingkungan anak-anak usia produktif," kata Wisnu saat dihubungi Kompas.com melalui panggilan telepon.

Menurut Wisnu, sejauh ini Jakarta Pusat masih menjadi salah satu titik peredaran narkoba dan obat-obatan keras.

Ia mengungkapkan bahwa sepanjang Juni 2026, polisi mengungkap setidaknya delapan kasus peredaran obat keras dan menyita 5.315 butir obat.

Namun, Wisnu menjelaskan, banyak pelajar yang takut atau merasa dihakimi jika harus berbicara secara terbuka terkait peredaran narkotika.

Nikmati Fitur Lengkap KARIN dengan KOMPAS.com PLUS

Dapatkan lebih banyak kuota, pahami berita lebih cepat, dan gali konteks mendalam dari artikel KOMPAS.com.