WASHINGTON DC, KOMPAS.com – Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance menuduh sejumlah pihak di pemerintahan Israel mencoba memengaruhi opini publik Amerika agar perang dengan Iran terus berlanjut.
Menurut Vance, upaya tersebut juga bertujuan menggagalkan negosiasi yang sedang ditempuh Washington untuk mengakhiri konflik.
"Ada beberapa orang dalam sistem mereka yang, tanpa keraguan sedikit pun, memanipulasi dan mencoba mengubah opini publik Amerika agar perang terus berlangsung tanpa batas waktu," kata Vance dalam podcast Joe Rogan, yang dikutip The Wall Street Journal, Rabu (15/7/2026).
Vance mengaitkan tuduhannya dengan laporan majalah Time yang menyebut Israel mengalokasikan ratusan juta dollar untuk memperkuat dukungan publik AS terhadap perang dan memperbaiki citranya di dunia.
Dalam laporan itu juga disebut adanya kontrak lobi senilai 45 juta dollar AS (Rp 813 miliar) yang diberikan kepada mantan manajer kampanye Donald Trump, Brad Parscale.
Vance mengatakan, sebagian dana tersebut diduga digunakan untuk membayar influencer daring yang menyerangnya karena mendorong kesepakatan dengan Iran.
"Saat saya membuka majalah Time dan melihat ada kampanye pengaruh asing yang didanai untuk menggagalkan kesepakatan yang sedang saya perjuangkan, sementara banyak orang yang menerima uang itu menyerang saya dengan cara yang sama sekali tidak jujur, respons saya adalah: 'Pergilah ke neraka,'" ujar Vance.
Ia menambahkan bahwa dirinya akan tetap mengutamakan kepentingan rakyat Amerika.
"Saya akan melakukan apa yang harus saya lakukan untuk rakyat Amerika. Saya mewakili warga Amerika terlebih dahulu."
Parscale membantah tuduhan tersebut melalui media sosial. Ia menyatakan tidak pernah menyerang nota kesepahaman gencatan senjata maupun pemerintahan Trump dan mengatakan, tidak ada bukti bahwa dirinya bertindak melawan pemerintahan.
Sementara itu, juru bicara Vance tidak segera memberikan tanggapan ketika dimintai komentar. Kedutaan Besar Israel di Washington juga menolak berkomentar.
Retaknya hubungan Washington dan Israel
Vance merupakan salah satu pejabat yang membantu merundingkan gencatan senjata dengan Iran bulan lalu. Namun, menurutnya, sejumlah pejabat Israel dan para pendukungnya di AS justru menyerangnya.
"Mereka menyerang saya tanpa henti, mengatakan kami seharusnya tidak bernegosiasi dengan Iran dan hanya melanjutkan kampanye militer tanpa batas waktu. Itulah posisi mereka secara terang-terangan," katanya.
Ia sebelumnya juga menegur anggota kabinet Israel yang mengkritik kesepakatan gencatan senjata sementara yang dicapai AS dengan Iran.
"Kalau saya berada di kabinet pemerintah Israel, saya mungkin tidak akan menyerang satu-satunya sekutu kuat yang masih saya miliki di dunia," ujarnya saat itu.