-
Serangan udara Israel menewaskan 12 warga Gaza, termasuk enam anggota satu keluarga.
-
PBB mengecam keras pembunuhan warga sipil yang berpotensi melanggar hukum humaniter internasional.
-
Total korban tewas di Gaza akibat operasi militer Israel kini menembus 73.290 jiwa.
Suara.com - Gempuran udara tentara Israel kembali membumihanguskan pemukiman padat di Gaza dan menewaskan sedikitnya 12 warga sipil. Enam korban di antaranya merupakan satu keluarga yang tewas terbakar di dalam rumah mereka sendiri.
Tragedi mengerikan ini membuktikan bahwa wilayah Gaza masih jauh dari kata aman bagi penduduk lokal. Eskalasi serangan justru kian membabi buta dan terus memakan korban jiwa dari kalangan non-kombatan.
Insiden berdarah di lingkungan Al-Sabra, Gaza Barat, menghanguskan apartemen milik Firas al-Masri pada malam hari. Kebakaran hebat akibat ledakan itu menyergap seluruh anggota keluarga yang sedang berada di dalamnya.
Kakak dari Firas al-Masri mengonfirmasi kepada BBC bahwa adiknya tewas terbakar bersama istrinya, Salsabeel. Tiga putri mereka yakni Faryal, Salma, Amira, serta putra mereka Naim, turut gugur dalam peristiwa tersebut.
Pihak militer Israel mengklaim sasaran tembak mereka adalah seorang anggota kelompok Hamas. Mereka menyatakan masih mendalami dampak serta hasil akhir dari serangan udara tersebut.
Sore harinya, empat warga lokal dilaporkan tewas akibat ledakan rudal yang membentur pemukiman di Al-Samar. Media Palestina melaporkan keterangan tim medis yang mengevakuasi para korban dari reruntuhan bangunan.
Tidak berhenti di situ, gempuran drone militer juga menyasar sebuah kendaraan di wilayah Al-Zahra. Dua orang di dalam mobil tersebut tewas seketika di tempat kejadian.
Pihak Angkatan Bersenjata Israel sejauh ini belum memberikan pernyataan resmi terkait dua gempuran mematikan tersebut. Ketegangan di wilayah Gaza bagian tengah dan selatan pun kembali memuncak.
Kementerian Kesehatan Gaza mencatat sedikitnya 1.168 warga Palestina tewas sejak gencatan senjata berlaku Oktober lalu. Di pihak lawan, empat prajurit Israel dilaporkan tewas akibat serangan balasan pejuang Palestina.
Kantor Hak Asasi Manusia PBB melayangkan kecaman keras atas lonjakan intensitas gempuran militer Israel tersebut. Juru bicara PBB menyoroti banyaknya korban yang berjatuhan di lokasi penampungan pengungsi dan area publik.
Juru bicara PBB Thameen Al-Kheetan membeberkan bahwa 57 warga Palestina tewas dalam kurun 13 hingga 20 Juli. Korban tewas mencakup enam anak-anak dan delapan perempuan yang berada di area pemukiman serta tenda pengungsian.
Al-Kheetan menambahkan bahwa 34 korban jiwa tewas di lokasi yang sangat jauh dari Garis Kuning. Garis tersebut merupakan batas wilayah kontrol militer Israel di dalam kawasan Gaza.
"Sembilan bulan setelah pengumuman gencatan senjata, tetap saja tidak ada tempat yang aman bagi warga Palestina di Gaza," kata Al-Kheetan.
Ia memeringatkan bahwa pembunuhan warga sipil secara terus-menerus ini berisiko melanggar hukum internasional. Perbuatan tersebut berpotensi kuat dikategorikan sebagai kejahatan perang dan kejahatan kemanusiaan yang berat.
"Menimbulkan kekhawatiran atas berlanjutnya pelanggaran hukum humaniter internasional, kejahatan perang, dan kemungkinan kejahatan kekejaman lainnya di Gaza."
Militer Israel mengklaim rentetan gempuran terbaru ini bertujuan memburu anggota kelompok bersenjata Palestina. Mereka menuding para milisi tersebut terlibat langsung dalam operasi penyerangan ke wilayah Israel pada 7 Oktober 2023.
Serangan mendadak pimpinan Hamas pada akhir 2023 itu menewaskan sekitar 1.200 orang dan 251 warga disandera. Peristiwa tersebut memicu aksi balasan berskala besar dari militer Israel hingga saat ini.
Guna membalas aksi tersebut, Israel melancarkan operasi militer secara masif dan agresif di seluruh penjuru Gaza. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan total korban tewas akibat invasi balasan ini telah menembus angka 73.290 jiwa.