LAMPUNG SELATAN, KOMPAS.com - Musim kemarau baru mulai terasa di Kabupaten Lampung Selatan. Namun, dampaknya perlahan mulai muncul di berbagai wilayah.
Di satu sisi, kobaran api semakin sering memaksa petugas pemadam kebakaran turun ke lapangan. Di sisi lain, sejumlah warga mulai mengandalkan bantuan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Data Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Lampung Selatan mencatat, sebanyak 59 peristiwa kebakaran terjadi sepanjang Januari hingga Juli 2026. Kebakaran itu tidak hanya melanda lahan, tetapi juga rumah warga, kendaraan, hingga bangunan usaha.
Rumah warga menjadi objek yang paling banyak terbakar dengan 30 kejadian. Selain itu, tercatat tujuh kebakaran lahan dan lima kebakaran mobil bus. Petugas juga menangani kebakaran gudang kopra, gudang minyak, rumah makan, ruko, hingga rumah yang tersambar petir.
Kecamatan Kalianda menjadi wilayah dengan kasus kebakaran terbanyak, yakni sembilan kejadian. Disusul Kecamatan Natar dan Jati Agung masing-masing delapan kejadian, serta Tanjung Bintang sebanyak tujuh kejadian.
Kepala Damkarmat Lampung Selatan, Rully Fikriansyah, mengatakan musim kemarau tahun ini perlu diwaspadai sejak dini karena membawa dua ancaman sekaligus.
"Musim kemarau memang baru berjalan, tetapi dampaknya sudah mulai dirasakan masyarakat. Kami melihat ada peningkatan potensi kebakaran dan kebutuhan distribusi air bersih di beberapa wilayah," kata Rully saat dikonfirmasi, Rabu (22/7/2026).
Kebakaran Lahan Jadi Perhatian
Rully mengatakan, kebakaran lahan menjadi salah satu ancaman yang berpotensi meningkat seiring cuaca panas dan angin yang mulai kencang. Menurut dia, banyak kasus kebakaran berawal dari aktivitas yang dianggap sepele.
"Jangan membuka lahan dengan cara dibakar dan jangan meninggalkan api tanpa pengawasan. Dalam kondisi kemarau, api kecil bisa dengan cepat membesar dan sulit dikendalikan," ujarnya.
Ia menambahkan, seluruh pos Damkar di Lampung Selatan telah diminta meningkatkan kesiapsiagaan selama musim kemarau, baik dari sisi personel maupun peralatan.
"Pencegahan adalah langkah yang paling penting. Kami berharap masyarakat semakin peduli terhadap potensi kebakaran di lingkungan masing-masing dan segera melapor jika menemukan titik api," kata Rully.
Hampir 70.000 Liter Air Bersih Disalurkan
Di tengah meningkatnya ancaman kebakaran, Damkarmat Lampung Selatan juga mulai disibukkan dengan distribusi air bersih kepada warga yang terdampak kekeringan.
Sejak Maret hingga pertengahan Juli 2026, Damkarmat telah menyalurkan sedikitnya 69.950 liter air bersih ke 18 titik di lima kecamatan, yakni Jati Agung, Kalianda, Tanjung Bintang, Palas, dan Katibung.
Pendistribusian terbaru dilakukan pada Kamis (16/7/2026) malam. Sebanyak 4.000 liter air bersih dibagikan kepada warga Dusun Suka Damai, Gang Koboy, Desa Babatan, Kecamatan Katibung.
Petugas Regu 2 Pos Damkar Kalianda berangkat pada pukul 19.40 WIB dan tiba di lokasi sekitar 20.05 WIB. Penyaluran air yang bersumber dari PDAM itu selesai dilakukan pada pukul 21.10 WIB.
Menurut Rully, pihaknya telah menyiagakan armada tangki air untuk mengantisipasi bertambahnya wilayah yang terdampak kekeringan selama musim kemarau.
"Kami meminta masyarakat tidak ragu melapor apabila mulai kesulitan mendapatkan air bersih. Penanganan yang cepat sangat penting agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi," ujarnya.
Musim kemarau di Lampung Selatan memang belum mencapai puncaknya. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, petugas Damkarmat sudah dihadapkan pada dua tugas sekaligus: memadamkan api yang membesar dan memastikan warga tetap memiliki air untuk bertahan hidup.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang