Noda Hitam Timnas Argentina Sepanjang Sejarah Piala Dunia

Noda Hitam Timnas Argentina Sepanjang Sejarah Piala Dunia

Gelandang Argentina, Leandro Paredes, saat membanting Gavi usai final Piala Dunia 2026. (AFP/Charly Triballeau)
  • Sejarah Timnas Argentina di Piala Dunia dipenuhi kontroversi, mulai dari Gol Tangan Tuhan 1986 hingga skandal air suci 1990 dan kasus doping Diego Maradona pada edisi 1994.
  • Polemik berlanjut di Piala Dunia 2006 ketika Argentina terlibat keributan dengan Jerman usai kalah adu penalti, yang membuat beberapa pemainnya dijatuhi sanksi larangan bermain.
  • Di Piala Dunia 2026, Argentina kembali disorot karena dugaan pengaturan pertandingan dan keputusan wasit yang dianggap menguntungkan mereka, serta insiden keras dalam laga final melawan Spanyol.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Performa gemilang Timnas Argentina di Piala Dunia 2026 tak sepenuhnya lepas dari polemik yang memicu perdebatan. Namun, fenomena ini sejatinya bukanlah hal baru. Sepanjang kiprah di Piala Dunia, La Albiceleste beberapa kali terseret dalam kontroversi yang meninggalkan noda hitam dalam perjalanan mereka di kompetisi sepak bola 4 tahunan.

1. Aksi Hand of God terus diingat sebagai polemik di Piala Dunia 1986

Argentina datang ke Piala Dunia 1986 Meksiko dengan membawa rivalitas sengit melawan Inggris. Sebelum pertemuan mereka pada perempat final, La Albiceleste sudah empat kali menelan kekalahan dari The Three Lions. Kedua kubu bentrok di Estadio Azteca, Mexico City, pada 22 Juni 1986, hanya 4 tahun setelah pecahnya Perang Falkland.

Pada menit ke-51, megabintang La Albiceleste, Diego Maradona, memulai serangan dengan menggiring bola ke area pertahanan Inggris sebelum mengoperkannya kepada Jorge Valdano. Upaya tersebut berhasil dipatahkan bek Steve Hodge, tetapi sapuannya justru melambung ke arah gawang The Three Lions. Menyadari dirinya kalah tinggi dari kiper Peter Shilton, Maradona melompat dan menyentuh bola menggunakan tangan kirinya hingga bersarang di gawang Inggris.

Pada masa ketika teknologi video assistant referee (VAR) belum digunakan, wasit dan hakim garis sepenuhnya mengandalkan pengamatan langsung di lapangan. Karena tidak melihat dengan jelas sentuhan tangan Maradona, wasit, Ali Bennaceur, bersama hakim garis, Bogdan Dochev, memutuskan mengesahkan gol tersebut meski mendapat protes keras dari para pemain The Three Lions. Alhasil, gol yang kemudian dikenal dengan julukan Hand of God (Gol Tangan Tuhan) ini pun dikenang sebagai salah satu momen paling kontroversial dalam sejarah Piala Dunia.

2. Skandal air suci yang menyeret Argentina di Piala Dunia 1990

Timnas Argentina berhasil melaju ke babak 16 besar Piala Dunia 1990 Italia sehingga mempertemukannya dengan Brasil, rival abadi mereka. Sayangnya, performa La Albiceleste tidak sesolid 4 tahun sebelumnya karena hanya lolos dari fase grup sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik. Di sisi lain, Brasil justru tampil meyakinkan dengan menyapu bersih 3 pertandingan fase grup serta hanya kebobolan 1 gol.

Saat itu, Turin yang menjadi lokasi perhelatan laga Argentina kontra Brasil sedang dilanda cuaca panas sehingga para pemain kerap memanfaatkan jeda untuk minum. Ketika Pedro Troglio mengalami cedera, staf medis Argentina memasuki lapangan sambil membawa minuman dan salah satunya ditawarkan kepada bek Brasil, Branco. Naas, tak lama setelah pertandingan dilanjutkan, Branco mengaku mulai merasa pusing dan kesulitan berkonsentrasi yang mengakibatkan penampilannya di lapangan menurun drastis.

Dilaporankan Diario AS, belakangan muncul tudingan kalau minuman yang diberikan kepada Branco telah dicampur dengan Rohypnol, nama dagang dari flunitrazepam yang dikenal memiliki efek sedatif yang dapat menyebabkan kantuk serta gangguan konsentrasi. Dugaan ini kembali ramai setelah Diego Maradona melalui program televisi Mar de fondo (1999—2005) melontarkan pernyataan yang oleh banyak pihak dianggap memperkuat tudingan tersebut. Sampai sekarang, belum ada bukti yang menunjukkan kalau penggunaan Rohypnol dalam peristiwa El Bidon de Branco atau skandal air suci—sebutan untuk insiden yang menimpa Branco di Piala Dunia 1990—terbukti kebenarannya.

3. Piala Dunia 1994 diwarnai kasus doping Diego Maradona

Diego Maradona memimpin La Albiceleste dalam misi perebutan trofi Piala Dunia pada 1994 yang berlangsung di Amerika Serikat. Saat itu, Timnas Argentina tergabung di Grup D bersama Nigeria, Bulgaria, dan Yunani. Mereka sebetulnya berhasil mengawali turnamen dengan impresif setelah meraih kemenangan atas Yunani dan Nigeria sehingga berada di posisi yang menguntungkan untuk lolos ke babak gugur.

Sayangnya, perjalanan Maradona mengenakan seragam biru-putih berakhir lebih cepat setelah dia dinyatakan positif doping karena mengonsumsi ephedrine, zat stimulan yang dilarang FIFA lantaran dapat meningkatkan performa sekaligus mempercepat denyut jantung. Hal ini sebenarnya bukan kali pertama bagi sang megabintang sebab sebelumnya juga pernah tersandung kasus doping setelah dinyatakan positif menggunakan kokain saat membela Napoli pada 1991. Atas pelanggarannya di Piala Dunia 1994, FIFA pun menjatuhkan sanksi larangan bermain selama 15 bulan kepada Maradona.

Kasus doping Maradona tak hanya menjadi pukulan bagi kariernya, melainkan juga bagi Timnas Argentina. Tanpa sang kapten, La Albiceleste takluk 0-2 dari Bulgaria pada laga terakhir fase grup sehingga harus puas finis sebagai runner-up Grup D. Nasib mereka kian memburuk setelah dikalahkan Rumania dengan skor 2-3 sehingga harus meninggalkan Negeri Paman Sam lebih cepat.

4. Argentina diduga memicu keributan usai tersingkir dari Piala Dunia 2006

Berakhirnya era Diego Maradona, perjalanan La Albiceleste menuju juara Piala Dunia tampak terseok-seok. Meski masih diperkuat oleh sejumlah pemain bintang, macam Javier Mascherano yang saat itu telah mengoleksi 16 caps bersama Timnas Argentina hingga Lionel Messi yang baru memulai karier internasionalnya, skuad asuhan Jose Pekerman gagal melangkah lebih jauh di Piala Dunia 2006. Langkah mereka pun terhenti di babak perempat final setelah kalah 2-4 lewat adu penalti dari Jerman selaku tuan rumah.

Usai wasit meniup peluit panjang, situasi semakin memanas ketika para pemain La Albiceleste dan Die Mannschaft terlibat adu mulut yang kemudian berujung baku hantam. Salah satu insiden paling mencolok dilakukan oleh pemain Argentina, Leandro Cufre, yang menendang Per Mertesacker dari belakang. Akibat ulahnya, Cufre yang belum sekalipun mendapat menit bermain di turnamen tersebut dijatuhi sanksi larangan bermain selama empat pertandingan.

Berdasarkan berbagai laporan, tensi sebenarnya sudah memanas sejak laga berlangsung. Bahkan, kepada The Guardian, kapten Jerman saat itu, Michael Ballack, mengungkapkan bahwa beberapa pemain La Albiceleste berusaha mengintimidasi para algojo penalti Die Mannschaft menggunakan bahasa Spanyol. Di sisi lain, kubu Argentina justru menyalahkan sikap para pemain Jerman yang dinilai membuat mereka tersulut emosi, terutama pada saat Tim Borowski melakukan selebrasi dengan meletakkan jari di depan bibir.

5. Rentetan polemik Argentina mengundang perdebatan di Piala Dunia 2026

Timnas Argentina kembali dihadapkan pada sejumlah kontroversi yang menerjang mereka sepanjang perhelatan Piala Dunia 2026. Sejumlah pihak menyoroti teori konspirasi yang menuding adanya pengaturan pertandingan (match fixing) yang disebut-sebut menguntungkan skuad La Albiceleste asuhan Lionel Scaloni. Tudingan ini muncul karena sejumlah keputusan wasit dalam pertandingan dianggap menguntungkan Argentina oleh publik.

Anggapan kalau La Albiceleste selalu menjadi pihak yang diuntungkan sebenarnya sudah mencuat sejak fase grup, tepatnya saat mereka berhadapan dengan Aljazair. Pada saat itu, wasit tidak mengabulkan permintaan kubu Aljazair untuk mengganjar Lionel Messi dengan kartu merah setelah sang kapten Argentina menendang betis kapten mereka, Aissa Mandi. Sejak peristiwa ini, sejumlah pertandingan La Albiceleste selama Piala Dunia 2026 terus diwarnai anggapan kalau mereka memperoleh keuntungan dari keputusan wasit, di antaranya gol Mesir pada babak 16 besar dan Spanyol pada final yang dianulir VAR sehingga memicu ketegangan antarkubu.

Kontroversi yang menimpa Timnas Argentina ternyata tidak hanya datang dari keputusan wasit. Gaya bermain La Albiceleste yang dinilai terlalu keras dan agresif turut menuai sorotan sepanjang Piala Dunia 2026, terutama dalam fase gugur melawan Cape Verde, Mesir, Swiss, dan Inggris. Puncaknya terjadi pada laga final melawan Spanyol yang menghadirkan berbagai insiden sepanjang pertandingan, mulai dari tekel Enzo Fernandez terhadap Pau Curbasi yang berujung kartu merah hingga Leandro Paredes yang terekam menyerang Eric Garcia dan Gavi serta pukulan Nahuel Molina kepada Rodri usai peluit tanda berakhirnya pertandingan dibunyikan.

Kontroversi demi kontroversi turut membayangi kiprah Timnas Argentina di sepanjang Piala Dunia. Berbagai peristiwa, mulai dari Gol Tangan Tuhan hingga keributan setelah pertandingan final di Piala Dunia 2026, telah memicu beragam sudut pandang dan perdebatan. Walau berstatus sebagai salah satu tim tersukses dalam sejarah Piala Dunia, La Albiceleste ternyata juga memiliki noda hitam yang memengaruhi citranya di mata para pencinta sepak bola.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.