Pantau - Majelis Ulama Indonesia (MUI) menggelar Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-8 tahun 2026 di Jakarta pada Jumat (24/7/2026) dengan mengusung tema Umat Bersatu, Bangsa Berdaulat, Negara Kuat sebagai upaya memperkokoh persatuan, memakmurkan umat, dan memperkuat peradaban Islam di Nusantara.
KUII Ke-8 Perkuat Sinergi Umat dan Bangsa
Ketua Panitia sekaligus Steering Committee KUII ke-8, KH Marsudi Syuhud, menjelaskan kongres tersebut bertujuan memperkuat seluruh elemen umat Islam dalam membangun sinergi dan kolaborasi.
"Kongres ini bertujuan untuk memperkuat seluruh elemen umat dalam mewujudkan penyamaan pola pikir keagamaan dan koordinasi gerakan untuk sinergi dan kolaborasi membangun umat, bangsa, dan negara," ungkap Marsudi.
Forum permusyawaratan tersebut dirancang untuk memperkokoh peran seluruh elemen umat Islam dalam menyelesaikan berbagai persoalan keumatan dan kebangsaan secara konstruktif, kritis, aplikatif, dan solutif.
Marsudi menekankan pentingnya memperkuat persatuan bangsa melalui ukhuwah Islamiah dan ukhuwah wathaniah demi mewujudkan tujuan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
"Kongres ini adalah untuk mewujudkan kualitas umat terbaik khairu ummah dalam berbagai aspek kehidupan, khususnya dalam aspek agama, sosial, peradaban, pendidikan, sains, teknologi, ekonomi, kesejahteraan, media, informasi, siber, politik, hukum, ketahanan dan pertahanan nasional," ujarnya.
KUII ke-8 melibatkan lebih dari 450 peserta yang terdiri atas pimpinan MUI Pusat, perwakilan komisi dan badan lembaga MUI, unsur pemerintah, serta perwakilan dari 87 organisasi kemasyarakatan sosial keagamaan.
Ahmad Muzani Soroti Nilai Historis Kongres
Ketua MPR RI Ahmad Muzani secara resmi membuka penyelenggaraan KUII ke-8 sekaligus menyampaikan arahan kepada peserta kongres.
Muzani mengingatkan bahwa Kongres Umat Islam Indonesia pertama kali diselenggarakan pada Februari 1943 di Yogyakarta di bawah kepemimpinan KH Hasyim Asy'ari ketika para tokoh Islam berkumpul pada masa transisi penjajahan Belanda ke Jepang.
Menurut Muzani, para tokoh Islam saat itu berhasil menyatukan tekad dan semangat dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
"Dari kongres pertama hingga ke-8 hari ini, inti utamanya adalah bagaimana menyatukan komponen umat Islam sebagai bagian terbesar di Indonesia. Sebab, jika umat Islam bersatu, bangsa berdaulat, maka negara pasti akan kuat," kata Muzani.
Muzani menilai persatuan umat merupakan kunci utama untuk mengatasi berbagai ketertinggalan bangsa, termasuk persoalan ekonomi umat dan pengembangan sumber daya manusia di tengah berbagai tantangan nasional.
"Umat dan bangsa tidak mungkin dipisahkan. Umat adalah bangsa, dan bangsa adalah umat. Itulah semangat dari Kongres Umat Islam yang ke-8," tegasnya.