Di IFESDC 2026, Dompet Dhuafa Paparkan Peran Keuangan Sosial Islam dalam Pengentasan Kemiskinan

Di IFESDC 2026, Dompet Dhuafa Paparkan Peran Keuangan Sosial Islam dalam Pengentasan Kemiskinan

KOMPAS.com - Ketua Pengurus Yayasan Dompet Dhuafa Republika Ahmad Juwaini menjadi pembicara dalam International Islamic Economics and Finance Conference for Sustainable Development (IFESDC) 2026 di The World Bank Headquarters, Washington DC, Amerika Serikat (AS).

Konferensi tingkat dunia yang digelar pada 15–16 Juli 2026 itu mengusung tema "Forging Shared Prosperity: Advancing Digital Islamic Economics and Finance through Inclusive Services and Ethical Practices". 

Dalam sesi ketiga yang membahas kesejahteraan bersama dan pertumbuhan inklusif, Ahmad memaparkan materi bertajuk Social Finance Practices to Achieve Social Welfare.

Ia menekankan pentingnya keuangan sosial Islam yang mencakup zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ziswaf), serta keuangan mikro syariah sebagai instrumen utama dalam pengentasan kemiskinan.

Menurut Ahmad, keuangan sosial Islam berperan sebagai instrumen redistribusi kekayaan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, mengurangi kemiskinan, dan mewujudkan keadilan sosial.

Ia menjelaskan, integrasi dana sosial, seperti zakat dan wakaf, dengan skema pembiayaan komersial serta keuangan mikro dapat mendorong kemandirian ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.

"Sinergi zakat, wakaf, dan penguatan ekonomi mikro dapat memutus rantai transaksi riba, memperkuat usaha mikro kecil menengah (UMKM), serta mendorong masyarakat penerima manfaat bertransformasi menjadi pembayar zakat," ujar Ahmad dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Kamis (23/7/2026). 

Kehadiran Dompet Dhuafa di IFESDC 2026 juga menunjukkan bahwa pengelolaan keuangan sosial Islam di Indonesia telah mendapat pengakuan di tingkat internasional.

Dampak program Dompet Dhuafa

Dalam kesempatan tersebut, Ahmad turut memaparkan dampak pengelolaan dana sosial terhadap pembangunan ekonomi.

Menurutnya, optimalisasi ziswaf mampu meningkatkan konsumsi masyarakat berpendapatan rendah, mendorong pertumbuhan usaha mikro, mengurangi beban APBN untuk program sosial, serta memperkecil kesenjangan ekonomi.

Ahmad menambahkan, instrumen keuangan sosial juga berperan penting dalam mendukung target pembangunan nasional sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029.

Di panggung global tersebut, ia juga memaparkan capaian berbagai program Dompet Dhuafa sepanjang 2025.

Di bidang pendidikan, lebih dari 90 persen penerima manfaat program beasiswa ETOS, Bakti Nusa, dan Smart Ekselensia berhasil menyelesaikan pendidikan serta keluar dari garis kemiskinan.

Di sektor ekonomi, program pemberdayaan, seperti Desa Tani, Dompet Dhuafa Farm, Budidaya Udang Vaname, dan Sentra Kopi Sinjai berhasil mengangkat sekitar 70 persen pelaku UMKM penerima manfaat ke atas garis kemiskinan.

Sementara itu, di bidang kesehatan dan sosial, jaringan rumah sakit Dompet Dhuafa, Klinik Apung Lombok, serta berbagai program tanggap darurat bencana telah menjangkau jutaan penerima manfaat.

Sepanjang 2025, Dompet Dhuafa menghimpun dana sebesar Rp 426,3 miliar dan menyalurkan Rp 425,9 miliar kepada lebih dari 2,82 juta penerima manfaat di berbagai wilayah Indonesia.

Sebagai informasi, IFESDC 2026 diselenggarakan melalui kolaborasi IMAAM Maryland, Universitas Tazkia, Sakinah Finance, dan Office of Executive Director (EDS16) The World Bank Group.

Konferensi tersebut dihadiri lebih dari 200 delegasi yang terdiri atas regulator, pembuat kebijakan, akademisi, dan praktisi industri keuangan syariah dari berbagai negara.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang