5 Dampak Bahaya Kelebihan Gula terhadap Otak, Memengaruhi Kesehatan Mental?

5 Dampak Bahaya Kelebihan Gula terhadap Otak, Memengaruhi Kesehatan Mental?

1. Penurunan daya ingat

2. Memengaruhi suasana hati dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental

Laki-laki mengalami depresi (magnific.com/freepik)

Selain penurunan daya ingat, dampak serius lainnya akibat kelebihan gula terhadap otak yaitu memengaruhi suasana hati. Ini bisa meliputi:

  • Gangguan pemrosesan emosi: Pada individu muda yang sehat, kemampuan untuk memproses emosi terganggu dengan peningkatan kadar glukosa darah, menurut sebuah studi pencitraan otak.
  • Peningkatan kecemasan: Studi lain yang diterbitkan di Diabetes Care, menemukan bahwa penderita diabetes tipe 2, melaporkan peningkatan kesedihan dan kecemasan selama hiperglisemia akut (kadar gula darah tinggi).
  • Risiko depresi yang lebih tinggi: Salah satu studi terbesar yang menghubungkan gula dengan depresi - analisis konsumsi makanan dan suasana hati dari 23.345 individu yang terdaftar dalam studi Whitehall II, menemukan bahwa tingkat konsumsi gula yang lebih tinggi, dikaitkan dengan peningkatan kasus depresi.

Selain itu, sebuah studi yang diterbitkan pada tahun 2017 di jurnal Scientific Report, menemukan bahwa mereka yang mengonsumsi gula dalam jumlah tertinggi, memiliki kemungkinan sekitar 23 persen lebih besar untuk didiagnosis gangguan kesehatan mental, dibandingkan dengan mereka yang mengonsumsi gula dalam jumlah yang terendah.

Perlu diketahui bahwa makanan yang kaya gula dan juga karbohidrat, bisa mengganggu neurotransmitter, yang menjaga suasana hati kita tetap stabil. Ini karena mengonsumsi gula, merangsang pelepasan neurotransmitter serotonin, yang meningkatkan suasana hati. "Terus-menerus mengaktifkan jalur serotonin secara berlebihan, bisa mengurangi persediaan neurotransmitter kita yang terbatas, yang bisa berkontribusi terhadap gejala depresi," kata Dr. Datis Kharrazian, pakar pengobatan fungsional dan penulis buku "Why Isn't My Brain Working?".

"Gula berlebih, terutama dalam jumlah yang tinggi dan sering, bisa memicu peradangan ringan dan stres metabolik, yang bisa mengganggu fungsi otak dan keseimbangan neurotransmitter, yang berpotensi merusak pengaturan suasana hati," kata Karoline Saweres, MS, RDN, LD, seorang ahli gizi terdaftar dan pendiri My Nutrition & Me.

Penelitian juga menemukan bahwa orang yang mengonsumsi makanan standar Amerika, yang tinggi makanan olahan, yang biasanya mengandung lemak jenuh, gula dan garam dalam jumlah yang tinggi, memiliki risiko yang lebih tinggi terkena depresi, daripada mereka yang mengonsumsi makanan utuh dan rendah gula, mengutip laman HuffPost.