Cerita SD di Kudus Dicap Kampung Sosial, Sepi Peminat hingga Ada Isu Murid Ngamen di Jalan

Cerita SD di Kudus Dicap Kampung Sosial, Sepi Peminat hingga Ada Isu Murid Ngamen di Jalan

KUDUS, KOMPAS.com - SD 5 Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus terdampak dengan label negatif "kampung sosial" hingga isu adanya murid yang mengamen sepulang sekolah.

Akibatnya, sekolah ini sepi peminat. Jumlah murid baru tahun ini hanya ada 3 orang. Sementara, total kesuluruhan siswa dari kelas I-VI ada 29 anak.

Cap negatif ini bermula ketika sekolah tersebut diisi anak-anak dari keluarga yang dulunya tinggal di bantaran Kali Gelis yang direlokasi ke Desa Hadipolo, tepatnya di RT 6.

Kepala Desa Hadipolo, Suleman Slamet mengakui, warga sekitar enggan menyekolahkan anaknya ke SD 5 Hadipolo dengan adanya stigma tersebut.

"Memang warga sendiri kalau sekolah di sini ya kerepotan dengan adanya stigma itu, permasalahan sosial," kata Slamet, usai koordinasi dengan pihak sekolah, Rabu (15/7/2026).

Dia menjelaskan, selama ini pihaknya sudah berupaya untuk menekan stigma negatif kampung sosial di RT 6.

Namun ia juga mengaku kesulitan dengan kondisi warga yang berpindah-pindah.

"Kita hanya saling mengingatkan, kita tidak memaksa (warga sekolah di sini), karena keberadaan masyarakat RT 6 itu kadang-kadang kesulitan kita pindah-pindah," jelasnya.

"Dalam arti kependudukan ikut sini, tapi domisili di mana, saya tidak ngerti, ada lagi yang domisili di mana tahu-tahu tempat tinggal di sini kesulitannya di situ," sambung dia.

Isu Murid Mengamen, Protes Belajar di Siang Hari 

Plt Kepala SD 5 Hadipolo, Solikhul Hadi mengatakan, sempat ada guru yang memergoki anak mengamen di jalan.

Anak tersebut diduga siswa dari sekolah yang ia pimpin.

"Memang ya kita sendiri di jalan, bapak-ibu guru ketemu lah itu dihampiri langsung ada yang lari. Iya (murid sini) ada yang seperti itu," kata Hadi saat ditemui di SD 5 Hadipolo, Rabu (15/7/2026).

Dia juga mengatakan terdapat murid yang protes saat pembelajaran di siang hari dan ingin segera pulang tanpa alasan yang jelas.

"Memang ada beberapa anak yang pulangnya agak siang itu sering protes, bu pulang, 'Mau ngapain?' ya ingin pulang," ungkap Hadi, menirukan percakapan guru dan murid di kelas.

Hadi yang mengaku baru memimpin SD 5 Hadipolo kurang lebih 2 bulan bertekad untuk menekan stigma negatif dengan harapan sekolah tersebut diminati masyarakat setempat.