LEBAK, KOMPAS.com – Ketiadaan perpustakaan tak membuat SDN Kaduagung Timur 1 di Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak, menyerah membangun budaya literasi.
Meski ruang perpustakaan sekolah rusak berat dan tak lagi dapat digunakan selama bertahun-tahun, sekolah yang dikenal sebagai salah satu SD favorit di Kabupaten Lebak itu justru mengubah lorong, taman, hingga sudut-sudut kelas menjadi ruang membaca bagi para siswa.
Setiap pagi, sebelum pelajaran dimulai, seluruh siswa dibiasakan membaca selama sekitar 15 menit. Buku-buku yang semula tersimpan di perpustakaan kini disebar ke setiap kelas dan ditempatkan di pojok baca.
"Kami tekankan, yang penting ada waktu membaca. Mau di kelas, di lorong sekolah, di taman, silakan. Yang penting anak-anak tetap membaca," kata Kepala SDN Kaduagung Timur 1 Lilis Sulastri saat ditemui Kompas.com, Kamis (16/7/2026).
Lorong dan Taman Jadi Ruang Literasi
Lilis mengatakan, membangun budaya membaca tidak semata bergantung pada keberadaan gedung perpustakaan.
Menurut dia, komitmen guru menjadi faktor utama agar kebiasaan membaca terus tumbuh di kalangan siswa.
"Ada pojok baca, ada perpustakaan, kalau gurunya tidak mendorong, ya tidak akan jalan. Tapi kalau guru punya komitmen, insya Allah anak-anak ikut terbiasa," ujarnya.
Untuk menjaga kebiasaan tersebut, guru juga diminta mendampingi siswa membaca saat jam istirahat.
Aktivitas membaca tidak hanya dilakukan di dalam kelas, tetapi juga di lorong sekolah maupun taman agar suasananya lebih menyenangkan.
"Kita ingin anak tahu bahwa membaca itu bisa di mana saja, tidak harus di perpustakaan," kata Lilis.
Selain membaca buku, pihak sekolah juga mengingatkan siswa agar terbiasa membaca dan menulis dengan benar, termasuk saat menggunakan media sosial maupun aplikasi pesan singkat.
"Kami sampaikan kepada anak-anak, boleh membaca WhatsApp, tapi perhatikan juga tulisannya. Jangan sampai terbiasa menulis singkatan yang tidak sesuai ejaan," ujarnya.
Koleksi Buku Masih Terbatas
Meski budaya literasi terus dibangun, Lilis mengakui koleksi bacaan nonpelajaran di sekolah masih terbatas.
Sebagian besar buku yang tersedia di pojok baca merupakan buku pelajaran.
Ia berharap sekolah dapat memiliki lebih banyak buku cerita bergambar, legenda rakyat, hingga kisah-kisah inspiratif yang lebih menarik minat baca anak.