Sosok misterius yang dijuluki Batman of Lagos de Moreno viral di media sosial setelah disebut memburu pencuri sepeda motor pada malam hari di Kota Lagos de Moreno, negara bagian Jalisco, Meksiko.
Dalam video yang beredar di media sosial, sosok bertopeng itu diduga menangkap pencuri sepeda motor, mengikat mereka ke tiang, menuliskan kata "ratero" yang berarti pencuri dalam bahasa Spanyol di dahi mereka, lalu meninggalkan sepeda motor yang diduga hasil curian di lokasi.
Meski sebagian warganet memuji aksi tersebut sebagai bentuk perlawanan terhadap maraknya pencurian kendaraan bermotor, pemerintah Meksiko justru membuka penyelidikan atas dugaan aksi main hakim sendiri itu.
Kejaksaan Negara Bagian Jalisco mengonfirmasi telah membuka penyelidikan terhadap serangkaian kasus yang dikaitkan dengan sosok yang dijuluki 'Batman of Lagos de Moreno'.
Jaksa Negara Bagian Jalisco, Salvador González de los Santos, mengatakan beberapa orang memang ditemukan dalam kondisi terikat disertai pesan peringatan agar tidak lagi mencuri sepeda motor.
"Ya, memang ada beberapa kejadian di mana sejumlah orang muda diikat dengan tulisan bahwa itulah yang akan terjadi jika mereka terus mencuri sepeda motor," kata González de los Santos, seperti diberitakan media lokal.
Menurut pihak kejaksaan, terlepas dari tuduhan pencurian yang dialamatkan kepada mereka, orang-orang yang ditemukan terikat tersebut tetap diperlakukan sebagai korban selama proses penyelidikan berlangsung.
Mereka kemudian dilepaskan dan dibawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan perawatan akibat luka yang diderita.
Laporan media setempat menyebut sedikitnya lima orang ditemukan dalam kondisi serupa dalam kurun sekitar 10 hari selama Juni 2026.
Mereka ditemukan terikat pada tiang atau fasilitas umum, sebagian dengan mulut dilakban, wajah dicoret, dan pesan yang menuduh mereka sebagai pencuri sepeda motor. Di beberapa lokasi, sepeda motor yang diduga hasil curian juga ditemukan di dekat mereka.
Fenomena tersebut memicu perdebatan di Meksiko. Sebagian masyarakat menilai aksi itu muncul akibat frustrasi terhadap tingginya kriminalitas, sementara aparat menegaskan penegakan hukum tetap menjadi kewenangan negara dan tindakan main hakim sendiri berpotensi melanggar hukum.