JAKARTA, KOMPAS.com - Para perajin wastra tradisional kini menghadapi tantangan besar di tengah gempuran kain bermotif batik yang dicetak di pabrik alias "batik" print.
Tampilannya yang nyaris serupa sering mengecoh masyarakat awam, sehingga mereka kesulitan membedakan mana karya buatan tangan dan mana hasil cetakan mesin.
Tantangan tersebut turut dirasakan oleh Nur, pemilik Gandaria Batik Betawi yang konsisten memproduksi batik Betawi khas Kampung Gandaria di Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan, sejak tahun 2012.
Meski kerap mendapat tawaran untuk beralih ke cara instan demi mengejar produksi massal, ia memilih jalur idealis dengan mempertahankan teknik cap dan tulis.
"Pernah sih ada yang nawarin kayak gitu (beralih ke print). Tapi aku tetap bertahan," ungkap dia kepada Kompas.com di mal Gandaria City, Jakarta Selatan, Senin (29/6/2026).
Mengedukasi konsumen soal perbedaan batik asli
Nur sering mendapati pelanggan yang kebingungan membedakan batik asli, entah itu tulis atau cap, dengan "batik" print.
Oleh karena itu, ia meluangkan waktu untuk mengedukasi setiap tamu yang datang ke rumah produksinya, atau ke booth saat di pameran, agar mereka memahami nilai otentik dari sebuah wastra.
"Aku enggak memproduksi 'batik' print. Karena 'batik' print itu bukan sesungguhnya batik, hanya motifnya saja," jelas Nur.
Menurutnya, sebuah batik baru bisa disebut otentik jika proses pembuatannya melibatkan lilin malam dan canting.
Ketika ia menjelaskan hal tersebut, banyak pelanggannya yang baru menyadari bahwa pakaian yang mereka beli di pasaran selama ini bukanlah batik yang sesungguhnya.
"Kalau batik tulis itu kan pakai canting. Kalau batik cap itu kan pakai canting cap, kayak stempel gitu. Itu baru batik asli," terang Nur.
Kritik penggunaan "batik" print di kalangan ASN
Keteguhan Nur dalam menjaga seni membatik yang diturunkan dari mendiang ibunya, dan dipertajam oleh pembatik asal Kabupaten Bekasi bernama Sumiati. Hal itu membuatnya tak mudah tergiur oleh proyek komersial.
Ia mencontohkan, pernah ada pihak yang menawarkannya pesanan seragam suatu instansi, tetapi mengharuskannya menggunakan kain cetak pabrik agar pengerjaannya lebih cepat.